Sunday, January 17, 2016

Negeri 5 Menara

6688121 
 Judul: Negeri 5 Menara
Penulis: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 432 halaman
Goodreads Rating: 4.01/5.00

Mandirilah maka kamu akan jadi orang merdeka dan maju. I'timad 'ala nafsi, bergantung pada diri sendiri, jangan dengan orang lain. Cukuplah bantuan Tuhan yang menjadi anutanmu.
Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.

Itu adalah mantra yang didengar Alif di kelas pertamanya di Pondok Madani. Mantra itu diteriakkan berulang-ulang oleh Ustadz Salman di hadapan murid-muridnya. Mantra yang kelak akan menjadi kompas hidup Alif sampai dewasa.

Masuk Pondok Madani bukanlah impian yang pernah muncul dalam benak Alif. Cita-cita Alif kelak setelah lulus Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) adalah melanjutkan pendidikan ke SMA terbaik di Bukittinggi kemudian menggapai cita-cita menjadi seperti Habibie dengan masuk ITB. Cita-cita hanya menjadi khayalan kalau Amak sudah berkata tidak.

Amak bermimpi anaknya akan menjadi the next Buya Hamka. Oleh karena itu Amak menginginkan Alif melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah, Mendalami ilmu agama sepenuhnya.

Di tengah aksi protesnya, surat dari seorang paman yang tinggal di Kairo memberinya ide untuk jalan keluar masalahnya. Alif memutuskan untuk masuk ke Pondok Madani yang jauh di Jawa Timur sana. Meskipun tidak yakin dan berat hati, Alif memutuskan untuk tetap berangkat.

Tak kenal maka tak sayang, lambat laun Alif menikmati kehidupan barunya di Pondok Madani. Meskipun sesekali, surat dari Randai, sahabat sekaligus saingannya di kampung halaman membuat Alif tersulut rasa iri karena kehidupan impiannya sedang dijalani Randai.
Penderitaan bersamalah yang menjadi semen dari pertemanan yang lekat.
Di Pondok Madani, Alif bertemu sahabat-sahabatnya Baso, Raja, Atang, Dulmaji, dan Said. Bersama-sama mereka menjalani hiruk pikuk kehidupan pondok, menjalani hukuman dari The Magnificent Seven, serta berbagi impian di bawah menara masjid Pondok Madani. Meskipun berbagai pencapaian telah diraihnya, Alif tetap saja bimbang tentang masa depan yang akan dijalaninya selepas lulus dari Pondok Madani.
Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup.
***
Pasang niat kuat, berusaha keras dan berdoa khusyuk, lambat laun, apa yang kalian perjuangkan akan berhasil. Ini sunnatullah-hukum Tuhan.
Novel ini mengingatkan saya akan Laskar Pelangi, tapi versi religiusnya. Semangat yang ditanamkan sama, berdasarkan kisah pribadi penulis dan penuh kalimat-kalimat penggugah semangat. Untuk saya yang pernah menjalani sekolah dasar di lingkungan pesantren, Pondok Madani ini berasa keren sekaliii....

Seperti kata penulis, kebanyakan siswa yang masuk sekolah agama adalah siswa-siswa terbuang, hadirnya Pondok Madani membuka wawasan kita bahwa masih ada sebuah tempat pendidikan yang memang siswanya benar-benar masuk ke sana dengan niat menuntu ilmu. Dengan sistem pendidikan yang seperti itu, rasanya mustahil 'siswa buangan' bisa bertahan walau hanya sebentar.

Banyak post it yang harus saya sematkan di halaman-halaman novel ini, karena quotes indah yang banyak diselipkan oleh penulis, terutama dari ajaran-ajaran pendidik Pondok Madani.

Tokoh favorit saya adalah Amak yang meskipun tegas menyuruh Alif mendalami agama, tapi selalu dengan bijaksana membesarkan hati anaknya.
Bila kamu melihat kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu, kalau tidak mampu, ubahlah dengan kata-kata, kalau tidak mampu juga, dengan hatimu.
Happy Reading! :)


you can find the book online on bukabuku.com

0 comments:

Post a Comment