Sunday, January 24, 2016

Gege Mengejar Cinta

Judul: Gege Mengejar Cinta
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 234 halaman
Cetakan keempat, Maret 2005
Goodreads Rating: 3.39/5.00

A tree falls in a forest with no one hearing it. Does it really fall? The answer is yes...But whocares?

Adalah Geladi Garnida atau Gege yang sejak pertama kali melihat sosok itu, pusat hidupnya telah berubah. Hanya dia, hanya Caca. Gege pertama kali mengenal Caca sejak SMP, ketika Caca menjadi anak baru di sekolahnya. Caca yang cantik, Caca yang tidak bisa dia dekati. Dari tahun ke tahun, Gege hanya menjadi pengagum rahasia yang hanya bisa menyaksikan Caca berganti dari satu pacar ke pacar yang lain, terlebih Caca tinggal di depan rumah Gege.

Sudah bertahun-tahun sejak Caca pindah ke luar negeri saat SMA, Gege tidak pernah tahu lagi keberadaan dan kabar Caca. Tapi ingatan Gege akan Caca tidak pernah berubah. Gege tetap setia menunggu Caca entah sampai kapan.

Gege bertemu lagi dengan Caca secara tidak sengaja. Lebih tepatnya Gege yang melihat Caca. Gedung tempat Caca bekerja berdampingan dengan gedung tempat Gege bekerja. Sejak saat itu rute Gege (dan teman-temannya) untuk makan siang berubah memutar, karena Gege ingin melihat wajah Caca dari kejauhan.

Dengan bantuan teman-temannya, Gege mulai mendekati Caca. Berawal dari menolong Caca dari PDKT atasannya hingga rutin menemani makan siang dan pertemuan-pertemuan mereka berikutnya. Gege dan Caca pada akhirnya saling mengetahui isi hati masing-masing. Sayang, kedekatan mereka terganggu karena Gege sering salah sebut nama ketika bersama Caca. Bukan nama Caca yang dipanggil, tapi Tia, teman kerja yang juga sahabat yang diam-diam menyukai Gege.
Wanita pada dasarnya memang suka dikejar. Tapi wanita tidak suka dipaksa berjalan lebih cepat dari yang mereka inginkan dan bahwa wanita menyukai kondisi di mana mereka memegang kontrol atas setiap pendekatan. ini, by the way adalah kode etik yang melandasi terbangunnya peradaban manusia
***



Sama gue elo nggak perlu merasa memperbaiki diri.
Sama gue, elo nggak perlu takut merasa tidak cukup berharga.
Sama gue, elo diterima apa adanya.
Bukan superman yang wanita cari.
Bukan milyuner yang wanita impikan.
Bukan einstein yang wanita tunggu.
Bukan apa yang elo tabung dan elo kerjakan yang akan membuat elo dihargai wanita.
Tapi apa yang elo bersedia berikan.
Elo berikan gue rasa nyaman.
Elo berikan gue rasa teduh.
Elo berikan gue apa yang cowok nggak.
Apa adanya elo.


Ini adalah buku pertama karya Adhitya Mulya yang saya beli dan baca tahun 2006 yang lalu. Dan, baru sempat saya review sekarang. It takes 10 years, Phiet! :D :D

Kocak dan sangat drama!!!
Endingnya itu sangat visual dan sepertinya penulis memproyeksikan novel ini untuk dijadikan film komedi romantis deh. Perpaduan antara kehidupan nyata seorang produser acara radio, drama radio yang dibuatnya dan adegan kejar mengejar yang penuh kekonyolan di bandara sebagai puncak dari kisah perjalanan Gege mengejar cinta.

Dibanding novel terbarunya, Sabtu Bersama Bapak yang bobot penulisannya sudah berkembang pesat, cerita konyol dan guyonan garing khas Adhitya Mulya masih begitu mendominasi novel ini. Belum banyak menyelipkan pesan-pesan serius seperti novelnya yang sekarang.

Sosok Gege bukan sosok sempurna, lelaki tampan berbadan atletis idola para wanita, tapi sosok yang jauh dari standar cowok ganteng. Dan ya, dia adalah pemeran utama cowok dalam novel ini. Tidak ada laki-laki ganteng dalam novel ini, semua laki-laki digambarkan tidak terlalu normal. Sebaliknya, dua perempuan dekat Gege, Caca dan Tia, adalah perempuan-perempuan cantik dan menarik yang menaruh hati pada Gege. Dan ending yang menggantung itu....selalu menyebalkan :P
Sulitnya jadi perempuan. Gengsi adalah kulit kedua mereka. Kulit yang mengikat mereka meraih takdir yang sebenarnya jauh lebih luas. Yang sebenarnya dapat membuat mereka mendapatkan apa yang benar-benar mereka mau.

Happy Reading! :)

0 comments:

Post a Comment