Sunday, May 31, 2015

Harmoni

14290348

Judul: Harmoni
Penulis: Wulan Dewatra, Ollie
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 284 halaman
Cetakan pertama, 2012
Goodreads Rating: 3.23/5.00

Coelho & Us
Kata 'sendirian' yang diucapkan oleh mulutnya terasa getir di lidah. Seperti kalimat terlarang yang seharusnya diganti dengan you-know-what atau kata kode lainnya. Bagi hati yang sendiri, ini kata yang penting untuk dihindari karena mengucapkannya dalam menimbulkan kegalauan yang mendalam.
Ryan mulai mengunjungi Kafe Buku setelah patah hati dengan hubungannya dengan Sofia. Hanya Kafe Buku ini yang belum pernah dikunjunginya bersama Sofia. Ryan tidak menyukai buku, hampir tidak pernah membaca buku. Sampai dia berkenalan dengan Lili.

Lili adalah seorang penulis yang sering menghabiskan waktu sendirian di Kafe Buku, entah untuk membaca atau mengerjakan tulisannya. Selama beberapa kali Ryan mencoba berkenalan dengan gadis cantik berkacama itu, tapi tak pernah muncul keberanian sampai kesempatan itu tiba. Lili meninggalkan buku The Alchemist miliknya di bangku kafe. Ryan memanfaatkan kesempatan itu untuk berkenalan dengan Lili.

Lili memberi tantangan kepada Ryan untuk membaca buku The Alchemist yang diyakininya mampu mengubah hidup Ryan seperti buku itu telah mengubah hidupnya. Perlahan Ryan mulai mengalami pengaruh dari kata-kata Paulo Coelho dalam hidupnya. Dia yang tadinya tidak berani mengejar mimpinya menjadi musisi.
Kamu harus bisa mengejar mimpimu, begitu kamu merasa senang dalam melakukan sesuatu, sebenarnya hatimu sudah selaras dengan apa yang digariskan untukmu di dunia ini. Jangan melawannya. Ikuti hatimu, ia yang paling benar.

Sang Angkuli
Manusia adalah menginginkan balasan, tidak seperti malaikat yang ikhlas sepenuhnya untuk Tuhan. Manusia adalah plin-plan, tidak seperti setan yang teguh pendirian untuk menjerumuskan. Manusia adalah tidak berharga, iblis pun tidak mau menyembahnya. Manusia itu lumpur. Diq
Andien menganggap hidupnya adalah kutukan. Karena penampilannya yang sedikit aneh dan selalu menghindari kontak fisik, bahkan dengan kekasihnya Gara, Andien mendapat sebutan Perawan Maria.

Hubungan Andien dan Gara berlangsung seperti simbiosis mutualisme, terlebih untuk Gara. Andien melakukan banyak hal seperti memalsukan kehadiran Gara di kelas atau mengerjakan tugas kuliah Gara. Sementara apa yang dilakukan Gara untuk Andien? Entahlah... Sudah berapa kali Gara yang selalu berganti-ganti wanita pada akhirnya kembali pada Andien. Sementara Andien, selalu berpura-pura tidak pernah tahu ulah Gara.

Ketika Gara akhirnya menginginkan hubungan mereka berakhir, Andien berpura-pura tegar meskipun ternyata ia merasa kehilangan. Gara pada akhirnya menyadari ia merindukan Andien meskipun mungkin keadaan seperti telah terlambat.
Kemungkinan seorang perempuan untuk seorang laki-laki ada dua. Menjadi yang terakhir, atau sekedar menjadi tempat persinggahan. Namun aku untukmu, hanya ada satu kemungkinan sebagai persinggahan. Walau begitu, aku akan menjadi tempat persinggahan termanis yang bisa kau temui di akhir hari yang melelahkan.
***

Saturday, May 30, 2015

Happily Ever After

23634830

Judul: Happily Ever After
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 356 halaman
Cetakan Pertama, 2014
Goodreads Rating: 4.02/5.00

Hanya karena sebuah cerita nggak berakhir sesuai keinginan kita, bukan berarti cerita itu nggak bagus. Happily ever after itu masalah persepsi. Kebahagiaan selama-lamanya yang sesungguhnya dirasakan di sini.

Lulu sangat mengagumi ayahnya. Bagi Lulu kecil menjadi seperti ayah adalah impian yang tidak bisa diganti dengan apa pun. Melalui sang ayah, Lulu mengenal dongeng-dongeng indah yang berakhir bahagia. Hingga suatu saat takdir sang ayah sendiri membuatnya tidak percaya akan akhir indah bak negeri dongeng, and they life happily ever after...

Ayah divonis kanker dan entah untuk berapa lama dia akan bertahan. Lulu berhenti percaya akan akhir yang bahagia. Ditambah lagi, kehidupannya di sekolah tidak berlangsung menyenangkan. Lulu kehilangan sahabat baiknya, Karin, yang lebih memilih untuk menjadi pribadi populer dan tidak lagi dikucilkan. 
Setiap orang seharusnya bebas menjadi siapa pun yang dia mau. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melakukan itu.
Rutinitas Lulu berubah semenjak ayah sakit. Rumah sakit menjadi tambahan rutinitas untuk menemani sang ayah menjalani terapi pengobatan untuk penyembuhan penyakitnya. Tapi bukan Lulu kalo tidak bisa menemukan tempat menarik dimanapun dia berada. Untuk mengatasi kebosanannya menunggu ayah yang sedang terapi, Lulu menghabiskan waktu dengan mengeksplorasi tempat-tempat di rumah sakit. Di sebuah kamar di pojok ruangan, Lulu bertemu dengan lelaki berkepala botak bernama Eli. Mereka dengan cepat menjadi cocok dan akrab.
Secara ilmiah, lima belas persen bukan angka yang besar. Tapi, secara spiritual, lima belas persen adalah harapan. Harapan nggak bekerja seperti statistik.
Ayah dan Eli mengajarkan banyak hal pada Lulu bahwa arti kepergian tidak berbanding lurus dengan akhir yang tidak bahagia. Mungkin hanya perlu mengubah sudut pandang.
***

Thursday, May 28, 2015

Sabtu Bersama Bapak

22544789 
Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 278 halaman
Goodreads Rating: 4.29/5.00
Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.
Kematian memang bukan sesuatu yang bisa direncanakan, tapi menyiapkan bekal untuk orang-orang yang dicintai bagi Gunawan Garnida adalah sesuatu yang mungkin. Selama dua tahun semenjak dirinya divonis penyakit kanker, Gunawan khawatir tidak bisa membesarkan kedua anak lelakinya dengan baik, sehingga dia menyiapkan cara untuk terus mendampingi pertumbuhan mereka tanpa terus berada di samping mereka nantinya.

Satya dewasa tumbuh menjadi seorang suami yang temperamen dan selalu melihat kekurangan dari istri dan tiga anak lelakinya. Sedangkan Cakra tumbuh dewasa sebagai pria yang tidak percaya diri mendekati wanita. Beruntung di saat-saat berat yang mereka hadapi, video-video rekaman Bapak yang sering mereka tonton di hari Sabtu menyelamatkan hidup mereka.
I can't ask for a better you. You, however, deserve a better me.
***

Wednesday, May 27, 2015

Walking After You

23686088

Judul: Walking After You
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 328 halaman
Cetakan kedua, 2015
Goodreads Rating: 3.95/5.00

Terkadang, satu sendok krim bisa menyelamatkan hari-hariku yang kelabu. Namun, sayang, satu sendok krim tidak pernah bisa mengembalikan hari-hari kami yang telah lalu.
An dan Arlet adalah saudara kembar yang mempunyai passion terhadap dunia kuliner. An jatuh cinta pada masakan Italia sedangkan Arlet menyukai pastry. Cita-cita mereka berdua adalah mendirikan trattoria yang menggabungkan menu masakan mereka berdua.

Mereka kompak dalam mengejar impian, sampai akhirnya An dan Arlet bekerja di sebuah restoran Italia milik Jinendra. Arlet menyukai Jinendra, dan An tahu persis. Sayangnya, Jinendra menyukai An dan An juga menyukai Jinendra. Sampai di suatu malam, Arlet mengetahui hubungan keduanya dan marah besar. Arlet pergi selama-lamanya dengan kalimat "aku membencimu" yang masih terngiang-ngiang di telinga An.

Karena rasa bersalahnya yang begitu besar, An berhenti mengejar impiannya. An meminta Galuh, sepupunya, untuk menerimanya bekerja di Afternoon Tea, sebuah kafe yang menyajikan kue-kue cantik alih-alih makanan Italia. An bertekad untuk mengejar impian Arlet, sebagai penebus rasa bersalahnya.
Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja.
Seperti kata Arlet juga, tangan An bukanlah tangan koki kue. Semua kacau kalau ada An. Begitulah yang terjadi di Afternoon Tea sejak kehadiran An. Bukannya membantu pekerjaan Julian, pastry chef di Afternoon Tea, An malah sering membuat Julian menggerutu dan marah-marah dengan hasil kerja An.

Di Afternoon Tea, An bertemu dengan sesosok Ayu. Perempuan muda yang selalu datang ke Afternoon Tea bersama hujan. Sosoknya menimbulkan rasa penasaran An karena perempuan itu selalu memesan menu yang sama dan tidak pernah sedikit pun menyentuhnya. Hasil pencarian An akan sosok Ayu malah mengingatkan An pada dirinya sendiri.
Untuk melepaskan masa lalu, yang harus kulakukan bukan melupakannya, melainkan menerimanya. Dengan menerima, aku punya kesempatan untuk belajar memaafkan diri sendiri. Aku tidak berkata ini mudah. Dan, ini akan butuh waktu. Tetapi, pada saatnya nanti, aku akan terbebas dari semua beban yang menekanku selama ini.
***

Tuesday, May 26, 2015

Ayahku (Bukan) Pembohong

11016697

Judul: Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 304 halaman
Cetakan keduabelas: Desember 2014
Goodreads Rating: 4.13/5.00

Tidak ada kata menyerah dalam kamus kehidupan Alim Khan. Dia yakin, siapa yang terus berjuang mengubah nasib, maka alam semesta akan mengirimkan bantuan, terlihat atau pun tidak terlihat

Dam kecil tumbuh besar dengan cerita-cerita indah petualangan ayahnya di masa muda. Persahabatan sang ayah dengan sang Kapten idola Dam, membuat Dam optimis dalam menjalani masa-masa sekolah dimana dia seringkali menjadi bahan olokan teman sekolahnya. Cerita indah apel emas dan lembah Bukhara serta suku Penguasa Angin membuat Dam tumbuh menjadi anak laki-laki yang santun, bijaksana, bahkan hampir tidak pernah menuntut hal yang berlebihan dari kedua orang tuanya. Meskipun beberapa kali Dam terpancing untuk membalas olokan temannya, dan pada akhirnya berkelahi, Dam tidak tumbuh sebagai sosok pendendam. Dam mereguk banyak nilai-nilai kehidupan dari cerita-cerita indah ayah.

Beranjak remaja, Dam bersekolah di Akademi Gajah, sebuah sekolah asrama yang berjarak delapan jam perjalanan kereta dari kota tempat tinggal Dam. Kesempatannya untuk mendengar cerita-cerita ayah hanya bisa dilakukan setahun sekali ketika libur panjang tiba. Beberapa kenakalan yang dilakukan Dam, membuatnya beberapa kali dijatuhi hukuman, salah satunya adalah membersihkan perpustakaan sekolah. Di sini, Dam menemukan hal-hal yang membuat dirinya ragu akan kebenaran cerita-cerita ayah.
Kepala suku benar, tidak perlu sebutir peluru, juga tidak perlu meneteskan darah anggota klannya untuk memenangkan perang, Yang dibutuhkan hanya kesabaran dan keteguhan hati yang panjang.
Dam memang tidak bisa membuktikan bahwa cerita-cerita ayah adalah sebuah kebohongan. Tapi selama dua puluh tahun berikutnya, Dam berhenti percaya akan kisah-kisah ayahnya, terlebih semenjak ibu, wanita yang sangat disayanginya, pergi meninggalkan mereka. Dam berjanji, dia tidak akan pernah membesarkan anak-anaknya dengan kisah-kisah yang bohong belaka. Semenjak dua puluh tahun itu pula, hubungan Dam dan ayahnya tidak pernah sama lagi.
Bangsa yang korup bukan karena pendidikan formal anak-anaknya rendah, tetapi karena pendidikan moralnya tertinggal, dan tidak ada yang lebih merusak dibandingkan anak-anak pintar yang tumbuh jahat.