Tuesday, July 22, 2014

A Love at First Sight

Judul: A Love at First Sight: Cinta Pada Pandangan Pertama
Penulis: Jennifer E. Smith
Penerjemah: Linda Boentaram
Penerbit: Qanita
Tebal: 320 halaman
Cetakan II, November 2012
Goodreads Rating: 3.81/5.00

Lebih baik pernah memiliki sesuatu yang bagus lalu kehilangannya, atau tidak pernah memilikinya?

Hari itu mungkin menjadi hari yang paling dibenci dalam hidup Hadley. Melakukan perjalanan yang sama sekali tidak diinginkan, serangkaian peristiwa naas dan pertengkaran dengan ibu sebelum sampai di bandara. Hingga tertinggal pesawat yang akan membawanya ke London.

Hanya terlambat 4 menit, tetapi sanggup mengubah jalan hidup Hadley ke depannya. Dengan terpaksa Hadley memesan penerbangan berikutnya, meskipun mungkin melewatkan peristiwa penting ayahnya di London adalah hal yang paling diinginkan Hadley saat itu.

Bagaimanapun juga, membayangkan pernikahan yang akan dijalani sang ayah, adalah hal yang tidak pernah diantisipasi Hadley. Menyaksikan ayah yang pergi meninggalkan ibu dan dirinya, tinggal berjauhan dengan sang ayah, diperkenalkan dengan calon ibu tiri, dan dipaksa menjadi saksi pernikahan ayah dan wanita lain, adalah rantaian peristiwa menyakitkan yang dijalani Hadley. Hadley belum bisa memaafkan perbuatan ayahnya.

Beruntung Hadley bertemu dengan Oliver, pria Inggris yang bersedia menggeret koper Hadley sementara Hadley sendiri bingung melangkah, pria yang mengalihkan perhatian Hadley pada klaustrofobianya selama berada di pesawat terbang, dan juga pria yang membuat jantung Hadley berdegup kencang sejak pertama kali melihatnya. Bertemu dengan Oliver, Hadley merasakan nyaman bahkan tidak sungkan-sungkan menceritakan hubungan buruknya dengan sang ayah. Sementara Hadley membuka rahasianya satu per satu pada Oliver, Hadley tidak menyadari dirinya tidak mengetahui tentang apapun terkait dengan Oliver.

Itulah yang dilakukan orang di pesawat. Kita berbagi sandaran tangan dengan seseorang beberapa jam. Kita bertukar cerita tentang kehidupan kita, satu atau dua anekdot lucu, mungkin bahkan lelucon. Kita berkomentar tentang cuaca dan makanan yang tidak enak. Kita mendengarkan orang itu mendengkur. Lalu, kita mengucapkan selamat tinggal.

Berpisah dengan Oliver di Heathrow, Hadley sadar akan sulit bertemu kembali dengan Oliver. Tidak ada tukar menukar nomor telepon, surel, atau pun alamat. Hanya satu petunjuk yang dimiliki Hadley, bahwa Oliver berada di satu tempat di London yang bernama Paddington. Hadley berusaha mengingatkan diri untuk kembali ke realita, melupakan Oliver dan menghadapi pernikahan ayahnya.

Jika kau menyayangi sesuatu, bebaskanlah ia.
***