Friday, March 21, 2014

Eclair: Pagi Terakhir di Rusia

Judul: Eclair: Pagi Terakhir di Rusia
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 236 halaman
Cetakan keempat, 2012
Goodreads Rating: 3.84/5.00

"Kematian tidak akan pernah menyerah sekalipun kau berusaha untuk menghindar ke sudut dunia yang paling rahasia. Takdir itu akan tetap menjelang, dan berlari pun akan percuma. Bila takdir gagal merenggutmu lewat pintu, ia akan masuk lewat jendela, menyelinap lewat celah, bahkan menembus pertahanan yang paling kokoh dan tangguh."

Peristiwa tragis di Paris dua tahun lalu, membuat persahabatan Ekaterina 'Katya' Fyodorovna, Sergei Valentinich Snegov, Stepanych Snegov, Kay Nikolai Olivier, dan Lhiver Olivier tercerai-berai.
Kay memilih menghindar, merasa menjadi bagian dari rasa bersalah atas peristiwa itu. Kay meninggalkan persahabatan mereka di St Petersburg dan tempat kelahirannya di Paris, memilih menjelajahi tempat-tempat asing dengan dalih mencari obyek fotografinya, sampai akhirnya bertemu Claudine di New York, Amerika Serikat.
Lhiver memilih untuk membenci mereka, menyalahkan peristiwa tragis itu terjadi karena kakak dan sahabat-sahabatnya itu. Lhiver pergi jauh ke Surabaya, Indonesia, menjauh dari jejak-jejak yang mengingatkannya akan mereka.
Sementara Stepanych menjadi tidak berdaya. Penyakit yang menggerogotinya semakin diperparah dengan peristiwa tragis itu. Stepanych tidak lagi patissier yang optimis dan selalu ceria. Stepanych bahkan nyaris seperti mayat hidup yang tanda-tanda kehidupannya hanya terasa dari hembusan nafasnya.

Setelah dua tahun berlalu, Katya berhasil membujuk Sergei untuk memutuskan mencari Kay dan Lhiver. Di dalam hati, Katya sendiri merasa bersalah dengan peristiwa tragis itu. Secara tidak langsung, latar belakang kehidupannya yang membuat peristiwa itu terjadi. Katya rela menempuh perjalanan dari St Petersburg ke New York, bahkan jauh ke Surabaya, Indonesia. Demi Stepanych yang mungkin saja tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama. Demi memutus kesalahpahaman dan mengembalikan ikatan persahabatan mereka seperti dulu.

"Kerjakan dengan hati. Tuangkan perasaan antusias. Memasaklah dengan kebahagiaan, maka hasilnya akan seindah I wandered lonely as a cloud."


Saturday, March 15, 2014

Refrain: Saat Cinta Selalu Pulang


Judul: Refrain: Saat Cinta Selalu Pulang
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 318 halaman
Cetakan kedua puluh dua, 2013
Goodreads Rating: 3.86/5.00

"Cinta itu nggak memiliki, Nat. Semua orang bebas merasakannya, menyimpannya. Tapi, kalau kamu terlalu takut untuk mengakuinya, selamanya kamu bisa terperangkap di dalamnya." hal.147

Niki dan Nata bersahabat sejak mereka masih kecil. Rumah yang berdekatan membuat mereka sering bersama, berangkat sekolah berboncengan naik sepeda, hingga menikmati datangnya senja sampai melihat bintang sambil berbaring di atas trampolin di belakang rumah Nata.

Ketika beranjak remaja, memasuki dunia putih abu-abu, Nata menyadari perubahan pada dirinya. Perubahan dalam cara dia menganggap Niki lebih dari sekedar sahabat. Bukannya Nata memilih untuk menjadi pengecut, ketakutannya akan kehilangan Niki lebih besar dibanding keberaniannya untuk jujur tentang perasaannya pada Niki.

Persahabatan Niki dan Nata diwarnai dengan kehadiran anak baru bernama Annalise, anak seorang model terkenal yang juga idola Niki. Tidak butuh waktu lama buat Niki yang ceria dan selalu tulus untuk mendekati Anna yang terlihat anti sosial pada awalnya. Jadilah, Niki, Nata bersahabat dengan Anna.

Banyak orang yang meyakini ungkapan bahwa laki-laki tidak bisa bersahabat dengan perempuan. Mungkin ada benarnya. Anna yang menyukai Nata, dan Nata yang menyukai Niki. Masing-masing tidak ada yang mampu mengungkapkan perasaannya, karena Anna tahu Nata menyukai Niki, dan Nata tahu Niki hanya menganggapnya sahabat terlebih dengan kehadiran Oliver. Oliver, kapten tim basket sekolah lain yang akhirnya bisa menjadi pacar pertama Niki.

"Gak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, Kak. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya." hal.244


Saturday, March 8, 2014

Barcelona Te Amo: Masih Ada Sketsa Rindu Untukmu

Judul: Barcelona Te Amo: Masih Ada Sketsa Rindu Untukmu
Penulis: Kireina Enno
Penerbit: Bukune
Tebal: 266 halaman
Cetakan II, Mei 2013
Goodreads Rating: 3.84/5.00

Karena seseorang akan terluka, dan itu membuatku ikut terluka. Jadi, kubiarkan matahari tak lagi menerangi semesta. - Katya -

Katya meninggalkan Indonesia menuju Barcelona demi mengalah pada kebahagiaan Sandra yang juga mencintai Evan, sahabat mereka. Sudah dua tahun berlalu Katya berada di kota yang indah yang tidak bisa juga dinikmatinya. Katya menjalani hari-harinya dengan kemuraman, sampai Lucia, teman kuliahnya, menjulukinya Lonely Goddess. Hanya lukisan yang bisa mencerminkan perasaan yang dialami Katya. Lukisan Dandelion yang kesepian mampu dibaca oleh ahli kurator Spanyol yang dingin, Manuel Estefan. Karena lukisan itu, Manuel tertarik untuk mengajak Katya ikut dalam pamerannya. Tawaran yang ditanggapi dingin oleh Katya.

Sejak pertemuan mereka di galeri milik Maria dan Isidro, Katya dan Manuel sering bertemu. Entah Manuel yang mengajak Katya mengunjungi tempat-tempat bernilai seni tinggi, atau Manuel yang mengecek perkembangan lukisan baru yang dimintanya pada Katya. Manuel yang dingin pada wanita karena masa lalunya, perlahan berubah sejak perkenalannya dengan Katya.

Masalah terjadi ketika Sandra tiba-tiba muncul di Barcelona. Setelah kandasnya hubungannya dengan Evan, Sandra penasaran dengan kehidupan Katya yang sekarang. Katya yang selalu menolongnya, Katya yang selalu disukai banyak orang, Katya yang selalu membuatnya iri dengan semua apa yang didapat. Seakan tidak ingin kebahagiaan menghampiri Katya, Sandra datang dengan keyakinan bahwa Evan juga pasti ada di sana.

Tidak butuh lama bagi Sandra untuk menyukai Manuel. Bahkan dengan terang-terangan Sandra berusaha mendekati Manuel. Terlebih ketika Evan muncul kembali di antara dirinya dan Katya. Seakan ingin membuktikan bahwa dirinya bisa melupakan Evan, Sandra tidak mengalihkan perhatiannya sedikit pun pada Evan.

Cinta adalah sebuah penerimaan besar, bahkan ketika kita nggak bisa memberi lebih banyak lagi


Sunday, March 2, 2014

Surat Dahlan

Judul: Surat Dahlan
Penulis: Khrisna Pabichara
Penerbit: Noura Books
Tebal: 396 halaman
Cetakan I, Januari 2013
Goodreads Rating: 3.87/5.00


"Hidup bukan rentetan kenikmatan belaka. Kadang kita butuh kegagalan untuk memahami betapa nikmatnya keberhasilan."

Dahlan muda memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya, Kebon Dalem, Takeran, menuju Samarinda, Kalimantan Timur untuk meraih gelar sarjananya. Tidak hanya kuliah di PTAI saja, Dahlan pun sempat kuliah di Universitas 17 Agustus, Samarinda. Tapi sepertinya, dunia perkuliahan bukanlah hal yang cocok bagi Dahlan muda. Cara mengajar dosen yang terkesan teoritis dan tidak sesuai dengan perilaku mereka, membuat Dahlan tidak bersemangat bahkan sempat menentang cara mengajar salah satu dosennya.

"Tak ada yang lebih buruk daripada mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi."

Di tengah kebimbangannya untuk melanjutkan kuliah, Dahlan muda juga dilanda rindu kampung halaman. Pada Bapak dan Zain, teman-temannya, dan pada Aisha. Surat-surat yang dikirimkan Aisha seolah menegaskan rindu yang dipendam Dahlan muda. Di antara rasa rindu, kebimbangan, Dahlan muda menemukan pelarian lewat organisasi kemahasiswaan PII. Di dalam organisasi ini, Dahlan muda menyuarakan aspirasi rakyat yang tidak puas dengan kinerja pemerintah.

Sayangnya, karena keaktifannya dalam organisasi PII, Dahlan muda sempat menjadi buronan para tentara yang menuduhnya dan kawan-kawan sebagai musuh negara. Dahlan muda ditolong oleh seorang nenek yang tinggal di tepi sungai, bernama Nenek Saripa. Melalui Nenek Saripa, Dahlan muda bertemu dengan pemilik koran harian Mimbar Masyarakat, Sayid. Sejak saat itu Dahlan muda mulai menggeluti bidang jurnalistik yang akhirnya membuat ia direkrut sebagai salah satu kontributor majalah Tempo yang nantinya akan mempertemukan ia dengan "jodoh"nya yang bernama Jawa Pos.

"Kita memang dilahirkan bersama rasa takut, tapi kita tak boleh gentar menghadapi apa pun."


Holland: One Fine Day in Leiden

Judul: Holland: One Fine Day in Leiden
Penulis: Feba Sukmana
Penerbit: Bukune
Tebal: 292 halaman
Cetakan I November 2013
Goodreads Rating: 3.83/5.00

"Een kind zonder moeder is een bloem zonder regen --Seorang anak tanpa ibu bagaikan sekuntum bunga yang tak pernah tersiram hujan."

Kara Sastrowidjojo, meninggalkan Yangkung dan Yangti tersayang di Yogyakarta menuju Leiden, Belanda, untuk mengambil gelar Master in Public International Law di Universiteit Leiden dengan beasiswa Huygens dari Nuffic. Belanda yang dingin, yang mengenal hujan seperti kawan akrab membuat Kara membandingkan hatinya yang sepertinya juga berkawan akrab dengan dingin.

Hidup di kota Leiden yang tenang, membuat Kara jatuh cinta dengan kota ini. Berjalan atau bersepeda di tepian kanal, menghabiskan waktu di bukit de Burch, sambil mengingat kembali masa lalunya dan mempertanyakan kemana langkah hidupnya nanti.

Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta

Berkali-kali Kara mencoba meyakinkan hatinya untuk tidak tergoda dengan pesona Pangeran Hujan bermata pirus itu. Cukup sekali Kara merasakan ditinggal pergi orang yang penting dalam hidupnya, tidak akan mungkin terjadi lagi. Tapi hati tidak bisa dilawan. Sejak bertemu Rein, Kara merasa berbeda. Hatinya mulai merasa hangat saat berbagi waktu berdua. Tapi Rein menyimpan misteri. Kepergian Rein yang selalu terkesan mendadak, munculnya lebam-lebam di beberapa bagian tubuh Rein membuat Kara ragu tentang hubungan yang terjalin di antara mereka.

Satu hal penting yang harus diselesaikan Kara dengan masa lalunya, kotak kayu pemberian Yangkung yang masih teronggok di sudut kamarnya, enggan untuk disentuh. Kotak kayu berisi sejarah hidup Kara, masa lalu yang coba dia lupakan. Ada saat ketika Kara pada akhirnya harus mencari sesosok itu. Ibu...

"Karena, ternyata manusia butuh lupa untuk menghapus luka."