Sunday, February 16, 2014

Bangkok: The Journal

Judul: Bangkok: The Journal
Penulis: Moemoe Rizal
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 436 halaman
Cetakan 2013
Goodreads Rating: 4.14/5.00

Pembaca tersayang,

Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neon yang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

เที่ยวให้สนุก, tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan,

EDITOR

Karena pada dasarnya, aku nggak sendirian. Aku masih punya keluarga.

Edvan Wahyudi, seorang arsitek muda yang sedang menuju puncak kesuksesan di Singapura. Sudah sepuluh tahun ia meninggalkan keluarganya di Indonesia, berusaha melupakan ibu dan adiknya dan meraih kesuksesannya sendiri. Sampai akhirnya pesan singkat itu muncul, mengabarkan meninggalnya sang ibu yang berusaha dibencinya selama ini.

Edvan kembali ke Indonesia, mendapati ibunya sudah dimakamkan tanpa bisa dia melihat wajah ibunya untuk terakhir kali. Edvan kembali bertemu adiknya, Edvin, yang hampir tidak dapat dikenalinya. Bagaimana Edvan akan mengenalinya? Kalau adik laki-lakinya itu muncul dalam penampilan yang membuatnya terlihat sangat mirip dengan ibu. Edvin berubah menjadi cantik dan...perempuan.

Sang ibu meninggalkan warisan yang harus dicari oleh Edvan. Edvan diminta untuk mengumpulkan enam jurnal yang tersebar di kota Bangkok, Thailand. Jika keenamnya telah terkumpul, maka warisan itu akan terungkap. Demi mengingat tentang ibunya, Edvan akhirnya mencari jurnal itu di Bangkok.

Selama pencarian jurnal, Edvan ditemani oleh seorang perempuan Thailand bernama Chananporn Watcharatrakul atau Charm. Berhari-hari bahkan berminggu minggu keduanya menjelajahi tiap tempat di Bangkok untuk menemukan satu per satu jurnal itu. Berulangkali keraguan menghampiri Edvan untuk mencari jurnal yang hampir tidak mungkin kalau dipikir secara logika, tapi kehadiran Charm yang selalu optimis dan ikhlas menemaninya selalu membangkitkan semangat Edvan.

"Resep sabar apa, Khun? Aku hanya melakukannya dengan senang hati. Kita hanya punya hidup satu kali di dunia ini. Kenapa harus frustasi pada masalah-masalah yang kita hadapi? Buat saja itu petualangan. Or something fun."

Perasaan suka Edvan perlahan-lahan muncul menjadi cinta. Segala hal dilakukan Edvan supaya perasaannya berbalas. Bahkan hal konyol sekalipun.
Selain mengejar cintanya, Edvan juga mulai bisa menerima perubahan yang terjadi pada diri Edvin, adiknya. Meskipun dia tidak pernah setuju dengan apa yang dilakukan adiknya.

"Aku nggak milih untuk cinta dia. Tiba-tiba aja, aku tahu kalau dia kunci yang tepat untukku. Kayak kalau kita coba masukin kunci ke banyak lubang pintu, waktu terdengar bunyi krek dan kunci itu pas masuk, rasanya kayak gitu."


Sunday, February 9, 2014

Paris: Aline

Judul: Paris: Aline
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 224 halaman
Cetakan Januari 2013
Goodreads Rating: 3.80/5.00

"I love you not because of who you are, but because of who I am with you."

Aline, mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Pantheon-Sorbonne demi membuat bangga sang ayah. Untuk menyambung hidupnya, Aline bekerja sebagai kasir di Bistro Lombok. Aline patah hati karena orang yang disukainya dan juga teman kerjanya, Putra, yang dijulukinya si Ubur-Ubur lebih memilih perempuan cantik Prancis, Lucie Francois. Karena tidak sanggup melihat mereka berdua bermesraan di tempat kerja, Aline memilih untuk mengambil cuti seminggu demi mengatasi patah hatinya.

Di tengah perjalanan pulang, melewati Jardin du Luxembourg, Aline menemukan pecahan porselen berwarna ungu muda yang menarik perhatiannya. Dengan petunjuk yang ada di pecahan porselen itu, Aline berusaha menemukan pemiliknya. Dengan bermodal alamat email yang ditemukan melalui akun twitter, Aline menghubungi pemilik porselen yang diyakininya bernama Aeolus Sena.

Entah apa yang ada di benak Aline ketika menyetujui permintaan Aeolus Sena untuk menemuinya sekitar pukul 12 malam di Place de la Bastille. Tempat itu tentu saja bukan tempat yang menarik untuk dikunjungi di tengah malam, mengingat tempat itu adalah tempat dimana para narapidana di jaman dahulu menjalani hukuman matinya. Dua kali membuat janji di sana, Aeolus Sena itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Pada hari ketiga barulah lelaki itu muncul dengan gaya berpakaiannya yang sedikit nyentrik.

Setelah mengembalikan porselen itu, Aline dijanjikan Aeolus Sena untuk mengabulkan tiga permintaannya. Sejak hari itu, Aline menghabiskan beberapa hari cutinya untuk pergi bersama Aeolus Sena sembari mengungkapkan permintaannya. Bagi Aline, Aeolus Sena adalah sosok yang aneh karena selain pertemuan mereka di Place de la Bastille, Sena juga mengajak Aline mengunjungi tempat favoritnya, Pere Lachaise, sebuah kawasan pemakaman terkenal karena orang-orang yang dimakamkan di sana juga kebanyakan orang-orang terkenal.

Ada banyak hal yang menyimpan misteri tentang sosok Aeolus Sena. Selain penampilannya yang eksentrik, gaya bicaranya yang terlalu blak-blakan, Aeolus Sena sering menghilang dan muncul secara tiba-tiba. Tapi itu tidak membuat Aline mundur, dirinya menjadi semakin penasaran ketika Aeolus Sena tiba-tiba muncul dengan membawa barang-barang yang dititipkan padanya dan pergi bersama seorang wanita yang mengejarnya.

"Don't cry because it's over, smile because it happens..."

***

Apa yang identik dengan Paris? Seakan menjawab pertanyaan kita, penerbit menyelipkan free postcard bergambar Menara Eiffel di dalam novel ini. Yeah, I love postcard!!

Tapi di novel ini kita tidak akan menjumpai jalan cerita yang berlatar belakang di Menara Eiffel. Alih-alih tempat yang romantis, kita akan dibuat merinding dengan mengunjungi Place de la Bastille di tengah malam dan area pemakaman terkenal, Pere Lachaise.

Penulis tidak menggunakan Paris sekedar untuk tempat terjadinya cerita, tapi lebih dalam tentang sejarah, seni dan orang-orangnya. Saya lega karena penulis tidak menggunakan melulu tentang Eiffel yang jamak dikenal orang apabila menyebut kota Paris.

Masing-masing karakter tidak digambarkan terlalu dalam, mungkin karena novel ini bercerita dari sudut pandang orang pertama, Aline, sebagai penulis buku diari. Dari pertama baca, sebenarnya saya jatuh cinta dengan sosok Kak Ezra dan berharap ada kisah manis antara Aline dan Kak Ezra. Hal ini juga yang membuat saya agak kecewa dengan akhir kisahnya. Tapi benar saja, sudah lama menyukai tapi tidak ada tindakan nyata untuk mengungkapkannya sama saja nol besar ya :D

Yang saya suka dari novel ini...Aline digambarkan sebagai sosok pencinta manga, dan karakter manga favoritnya adalah Aiolos de Sagittaire. Ingatan saya tiba-tiba kembali ke masa kecil, di hari minggu ketika saya tidak sabar menunggu tayangnya Saint Seiya di tivi. Aiolos de Sagittaire adalah salah satu karakter di Saint Seiya (seingat saya...)

Kisah di balik kehidupan Aeolus Sena membuat novel ini tidak hanya berkisah tentang Aline yang merasa inferior dengan hidupnya. Hadirnya sepasang suami istri psikopat yang memperlakukan Sena sebagai sosok anaknya yang sebenarnya sudah meninggal, semakin memperdalam cerita novel ini.

Karena saya menyukai sosok tetangga Aline, si Ezra Yoga itu. Bagian favorit saya adalah film pendek yang dibuat Aeolus Sena untuk membantu Ezra menyatakan perasaannya pada Aline. Yaaa, meskipun pada akhirnya itu sudah terlambat.

Indahnya kota Paris digambarkan penulis dengan toko bakery dan pastry khas Prancis, Beaumarchais Boulangerie atau kafe teh mungil, Mariage Frefes yang akhirnya membuat saya googling karena kedua tempat itu terbayang keren buat saya :D

"Beginikah cinta itu...? Saat kita tahu kita tak kasat mata bagi orang yang dicintai, tapi tetap melakukan apa pun demi orang itu...?"

Happy Reading ! :)

Review ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014 di http://kubikelromance.blogspot.com/2013/12/update-indonesian-romance-reading.html
Review ini diikutkan dalam Indiva Readers Challenge 2014 di http://indivamediakreasi.com/indiva-readers-challenge-irc-2014/
...dan tentu saja review ini diikutkan dalam BBI Review Challenge...

Wednesday, February 5, 2014

The Vanilla Heart

Judul: The Vanilla Heart
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 262 halaman
Cetakan Juni 2013
Goodreads Rating: 3.26/5.00

"Vanila itu mampu memberi efek menenangkan bagi orang yang mencicipinya. Entah itu dipakai sebagai campuran makanan ataupun minuman. Vanila menjadi penyeimbang untuk hal-hal bertolak belakang yang dialami manusia. Hidup tidak selamanya manis atau pahit, kan? Kehidupan setiap manusia selalu ada campuran keduanya. Nah, itulah yang membuat seimbang."

Hugo tadinya berharap cinta pertamanya akan menjadi cinta terakhir baginya. Harusnya pertunangannya dengan Farah, cinta pertamanya, adalah awal terwujudnya kisah yang berujung happily ever after. Tapi apa yang dirasakan Hugo tidak begitu yang dirasakan Farah. Farah tidak menginginkan kisah cintanya berujung pertunangan. Belum menginginkan, tepatnya. Tapi bagi Hugo itu berarti tidak akan pernah ada masa depan bagi hubungan mereka. Bertunangan atau tidak sama sekali. Hugo memutuskan untuk mengakhiri dan memilih pergi ke Bristol, Inggris.

Di tengah kekacauan hati sebelum pergi ke Bristol, Hugo hampir menabrak dua orang siswi SMA. Entah karena sedang kacau atau memang sesuatu yang 'tidak biasa' itu sedang terjadi, bukannya meminta maaf, Hugo malah melamar Dominique, salah satu dari dua siswi yang hampir ditabraknya. Tentu saja bukan jawaban iya yang diterima Hugo, hadiah bogem mentah malah mendarat di hidungnya.

Awalnya Bristol mungkin menjadi tempat pelarian bagi Hugo, tapi akhirnya Hugo menambah masa tinggalnya di sana entah karena alasan apa. Di Bristol, Hugo mulai mengenal dan kecanduan vanilla latte karena temannya. Kembalinya dia ke Bogor pun karena desakan sang Mama yang menginginkannya kembali.

Hugo kembali bertemu Dominique, gadis yang dilamarnya lima tahun yang lalu. Entah karena rasa penasaran atau memang dorongan hati, Hugo terus berusaha untuk mendekati dan lebih mengenal Dominique yang ternyata penyuka ice cream vanilla. Kisah cinta mereka tidak berjalan mulus. Dominique harus mengatasi rasa patah hatinya karena cinta diam-diamnya terhadap pacar sahabatnya, Farah yang menginginkan hubungannya kembali dengan Hugo, dan juga restu orang tua Hugo.

"Beginikah rasanya mengkhawatirkan seseorang? Padahal dia hanya orang asing bagiku."

***

Baca novel ini serasa lagi nonton FTV. Kisah tabrakan, terjebak di lift, bahkan ending ceritanya drama bangettt.

Di awal cerita, saya merasa kalau ceritanya masih ngambang. Seakan-akan penulis terburu-buru membuat pengantar atau asal mula cerita yang mendasari kisah yang terjadi antara Hugo dan Dominique dan sejarah awal kecintaan Hugo akan vanila. Cerita mulai terasa smooth ketika Hugo kembali bertemu dengan Dominique. Alur ceritanya juga tersaji dengan rapi.

Nama-nama karakternya agak gak biasa bagi novel lokal yang setting ceritanya juga di dalam negeri. Hugo, Taura, Kyoko, Dominique. Terkecuali Kyoko, sepertinya karakter yang lain diceritakan gak ada blasterannya ya.. Atau memang saya yang kurang familier dengan nama-nama itu.

Novelnya cukup ringan untuk masuk kategori novel dewasa, tapi menghibur kalau memang butuh bacaan yang menyenangkan.

"Vanila tidak pernah memiliki beragam rasa dan aroma. Vanila setia pada rasa dan aromanya sendiri yang istimewa."

Happy Reading! :)

you can find the book on bukabuku.com

Review ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014 di http://kubikelromance.blogspot.com/2013/12/update-indonesian-romance-reading.html
Review ini diikutkan dalam Indiva Readers Challenge 2014 di http://indivamediakreasi.com/indiva-readers-challenge-irc-2014/
...dan tentu saja review ini diikutkan dalam BBI Review Challenge...

Saturday, February 1, 2014

The Chocolate Chance


Judul: The Chocolate Chance
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 356 halaman
Cetakan Maret 2013
Goodreads Rating: 3.44/5.00

"LIfe is like a chocolate...You never know what you're gonna get." Forrest Gump

Orvala Theobroma, seorang perempuan pecinta cokelat. Bahkan namanya pun beraroma cokelat karena ayahnya juga penggemar cokelat. Salah satu impiannya adalah bekerja dalam hal yang berhubungan dengan cokelat. Impiannya terwujud ketika bertemu Aruna Handrian, kekasihnya yang mengajak Orvala untuk bergabung mengelola sebuah kafe cokelat, Fedde Velten Cafe, yang berkonsep Eropa yang terletak di Little Netherland, sebuah tempat di kota Semarang.

Di Fedde Velten Cafe, Orvala menumpahkan segala passion-nya. Selain sebagai kasir, Orvala seringkali bertugas di dapur ketika ada pesanan soleil choco, minuman cokelat berbahan dasar cokelat couverture, susu murni segar, gula palem, dan whipped cream. Hanya Orvala yang bisa membuatnya, meskipun banyak orang telah mencoba persis sama seperti yang dibuatnya, hasil soleil choco tidak pernah sama. Tidak hanya itu, Orvala juga terlibat dalam penambahan ide-ide yang bisa membuat kafe menjadi semakin maju.

"Seperti tumbuhan akar-akaran, mengendap saat musim kemarau dan tumbuh lagi jika musim penghujan datang. Seperti itulah cinta masa lalu. Ia tidak menghilang, hanya mengendap, menunggu sesuatu yang membuatnya bangkit lagi - tidak bisa diremehkan."

Orvala menyayangi Aruna, lelaki yang selalu mendampinginya dalam setiap suka dan duka bahkan berbagi impian dengannya. Tapi masa lalu itu kembali, tak disangka-sangka. Juno Aswanda, kakak kelas semasa SMA, kekasih yang tiba-tiba meninggalkannya tanpa kabar berita kembali muncul di hadapannya. Yang lebih mengejutkan, baru diketahui Orvala, kalau Juno dan Aruna saling mengenal, sebagai saudara sepupu.

Juno menginginkan Orvala kembali, mengganti masa-masa yang telah dilalui Orvala tanpanya. Di tengah kebimbangan Orvala, kembali muncul seorang perempuan bernama Fidela, yang pernah menjadi rebutan antara Juno dan Aruna. 

"Andai saja perasaan manusia bisa diatur, aku akan mengatur kepada siapa seharusnya perasaan ini dilabuhkan. Aku ingin menutup masa laluku - aku tidak ingin terikat statis pada masa lalu yang ingin kulupakan itu..."

***

Lihat sampulnya, jadi pengen makan. Didesain seperti chocolate bar yang bungkus atasnya sudah disobek dan tinggal digigit. NYammm...
Untunglah...baru beli sekotak cokelat Monggo dari Yogyakarta, sebagai teman menghabiskan novel ini. Jadi yang digigit cokelat aslinya ajah :D

Setelah menghabiskan The Mint Heart yang meledak-ledak, rasanya susah banget buat saya menghabiskan novel  yang lumayan tebal ini. Akhirnya...
Alurnya lambat...maju mundur. Kadang saya juga bingung dengan pemakaian POVnya yang tidak konsisten. Secara keseluruhan menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi ada juga yang tiba-tiba menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Orvala.

Penulis konsisten menyebutkan ciri yang melekat pada diri masing-masing karakter. Misalkan, Juno si mata madu atau Aruna lelaki berbehel merah dengan suara baritonnya. Begitu juga dengan penggambaran lokasi Fedde Velten Cafe.

Novel ini tidak melulu tentang cinta. Ada perjuangan keras yang harus dilalui seorang Orvala sejak masih sekolah dan hidup sendirian setelah kedua orang tuanya tiada. Ada juga tentang impian besar Aruna terhadap masa depan Fedde Velten Cafe. Penulis juga menyuguhkan berbagai filosofi tentang cokelat yang berkaitan dengan kehidupan.

"Karena hidup seperti cokelat. Perpaduan antara pahit dan manis itulah yang menjadikan serasi dan berkesan."

Happy Reading! :)

you can find the book on bukabuku.com

Review ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014 di http://kubikelromance.blogspot.com/2013/12/update-indonesian-romance-reading.html
Review ini diikutkan dalam Indiva Readers Challenge 2014 di http://indivamediakreasi.com/indiva-readers-challenge-irc-2014/
...dan tentu saja review ini diikutkan dalam BBI Review Challenge...