Friday, January 31, 2014

The Strawberry Surprise




Judul: The Strawberry Surprise
Penulis: Desi Puspitasari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 270 halaman
Cetakan Mei 2013
Goodreads Rating: 3.24/5.00

"Tidak ada yang tahu bagaimana cara kenangan bekerja. Keluar masuk ingatan seenaknya sendiri."
 
'Kapan kita akan bertemu?' 'Tunggu sampai kamu tiba-tiba mendengar tawaku.'
Lima tahun telah berlalu. Janji yang dibuat Aggi saat berpisah dengan Timur di Stasiun Tugu, Yogyakarta.
Aggi, seorang perempuan penyuka fotografi, yang bekerja di sebuah galeri seni di Yogyakarta. Yogyakarta dan seni adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Begitu juga bagi Aggi yang melakoni kesehariannya tidak jauh-jauh dari hal berbau seni.
Timur, seorang yang bekerja di sebuah jasa periklanan di Bandung, piawai bermain saksofon.

Pertemuan pertama mereka terjadi di sebuah pertunjukan jaz di Yogyakarta. Kala itu, Aggi sebagai penikmat acara dan Timur sebagai bintang tamu di sana. Penampilan Timur di panggung menarik hati Aggi untuk mengabadikan ekspresinya dalam jepretan kamera analog jadul pemberian sang ayah. Foto hasil jepretan Aggi yang kemudian diunggah ke blog pribadinyalah yang kemudian mempertemukan Aggi dan Timur secara personal. Pertemuan seminggu atau dua minggu sekali di akhir pekan dilakukan mereka dengan Timur yang menempuh rute Bandung-Yogyakarta atau sesekali Aggi yang ke Bandung.

Kebersamaan demi kebersamaan yang akhirnya membuat mereka resmi berpacaran. Kemudian setelah sekian waktu berlalu Aggi memutuskan mengakhiri dengan alasan relasi yang hampa. Seakan tak rela dengan keputusan itu, Aggi membuat janji untuk bertemu lima tahun lagi.

Di tahun kelima, Timur tiba-tiba mendengar tawa itu. Suara tawa yang membuatnya memutuskan untuk kembali menemui Aggi. Timur menemui Aggi dengan cara tidak biasa, dengan teka-teki, seperti yang selalu dilakukan Aggi sebelum berpisah. Keduanya masih sama-sama berharap meski Aggi cenderung bersikap defensif terhadap perasaannya. 

Pertemuan mereka kembali diisi dengan cerita Aggi tentang lima tahun yang dijalaninya bersama pria-pria yang pernah dekat dengannya. Cerita tentu saja diawali dengan kisahnya dengan Timur, berlanjut dengan seorang pria Prancis yang menginginkan relasi romansa yang serius, seorang seniman perupa, dan kisah semalam dengan seorang pria flamboyan. Di antara cerita-cerita itu, hubungan keduanya menjadi lebih dari sekedar mengenang masa lalu.

"I can live without heaven - but I can never forget you."

***
Sebenarnya ini adalah novel seri love flavour keempat yang saya baca. Sebelumnya saya sudah menyelesaikan The Chocolate Chance, yang reviewnya saya belum buat karena belum menemukan rasa yang pas :)

Agak menyesal baru baca sekarang...harusnya saya bawa novel ini saat mbolang ke Yogyakarta dua minggu yang lalu. Saya malah bawa novel lain sebagai teman perjalanan :(
Baca novel ini seakan kita diajak berkeliling kota Yogyakarta yang kaya akan seni. Satu cerita berlatar Stasiun Tugu, Malioboro, perempatan 0 KM, Taman Budaya. Lain waktu berpindah ke Kota Gede, ke Bentara Budaya di Kotabaru, dan berwisata mengunjungi Keraton dan Taman Sari. Bahkan kalau kita menyimak, penulis juga menyuguhkan informasi tempat kuliner khas yang benar-benar ada di Yogyakarta, seperti warung Sidosemi di Kotagede atau Bakmi Jawa Pele di pojokan Alun-Alun Utara. Uggghh, jadi pengen balik ke Yogyakarta dan keliling-keliling lagi....

Selain tentang kota Yogyakarta yang digambarkan dengan detil, saya menyukai gaya bercerita penulis yang unik. Rangkaian katanya yang menggunakan bahasa baku membuat saya memandang bahwa menulis bukan hanya tentang bercerita dengan baik, tapi berusaha untuk menggunakan dan melestarikan bahasa Indonesia secara baik. Penggambaran karakter dan penyampaian perasaannya yang meskipun tidak ditulis secara gamblang mampu saya rasakan.

Secara tampilan sampul depan, saya tidak begitu berharap banyak dari isi novel yang sampul depannya semenggoda itu. Karena saya pernah tertipu baca novel hanya karena tertarik covernya. Tapi don't judge a book by its cover tidak berlaku di sini. Sampul depannya memang mengundang, begitu juga isinya.

Dari keempat novel Love Flavour yang sudah saya baca, filosofi rasa yang disampaikan novel ini paling terasa. Filosofi tentang stroberi yang meledak-ledak, manis, asam, dan tak terduga digambarkan dengan baik dalam karakter seorang Aggi. Sepertinya penulis benar-benar menggali hal-hal yang dikenalnya dengan baik. Entah itu tentang kota Yogyakarta yang memang menjadi tempat tinggalnya dan hal-hal yang terkait dengan fotografi. Penulis menjadikan sepeda motor bebek merah tahun 70-an dan kamera analog jadul sebagai ciri unik pada diri Aggi yang menurut saya sangat pas dengan Yogyakarta yang nyeni. Jangan-jangan perempuan asal Jawa Timur yang menetap di Yogyakarta dengan sepeda dan kamera antik adalah si penulis sendiri. Hihihi...

Bagian yang paling saya suka adalah saat Timur mengajak Aggi untuk menikah. Sama sekali tidak romantis memang, tapi saya sukses tertawa gara-gara reaksi Aggi yang tiba-tiba linglung setelah ditembak di tempat seperti itu :D


'Theklek kecemplung kalen, tinimbang golek aluwung balen.'

Happy Reading! :)

you can find the book on bukabuku.com

Review ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014 di http://kubikelromance.blogspot.com/2013/12/update-indonesian-romance-reading.html
Review ini diikutkan dalam Indiva Readers Challenge 2014 di http://indivamediakreasi.com/indiva-readers-challenge-irc-2014/
...dan tentu saja review ini diikutkan dalam BBI Review Challenge...

Winna Efendi's Book Reading CHallenge 2014

jeng..jeng...
lagi asyik blogwalking sana sini, karena jarang banget punya waktu luang buat jalan-jalan asyik begini (thanks to tanggal merah!!!), dan nemu beberapa reading challenge. Memang gak semua bisa diikuti, tapi bertekad memperbaiki track record buruk target baca buku saya dua tahun belakangan ini.

Salah satunya menemukan reading challenge ini di blognya mbak luckty. Kebetulan, kemarin baru saja mengumpulkan seri STPC yang masih ngantri untuk dibaca. Salah satunya adalah Melbourne-nya Winna Efendi. Setelah melihat rating di goodreads, saya juga mulai berburu buku Winna Efendi yang lain. Belum punya yang lain sih, tapi Uphiet rasanya perlu punya komitmen di muka untuk membuat segala rencananya terwujud. Semoga reading challenge yang satu ini bisa jadi pengungkit daya juang saya :)

Semangat...semangat...

Sunday, January 26, 2014

The Mint Heart

Judul: The Mint Heart
Penulis: Ayuwidya
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 336 halaman
Cetakan Maret 2013
Goodreads Rating: 3.76/5.00

"Dia memang selalu begitu, dingin. Namun, begitulah dia, dan aku menyukainya tanpa banyak protes, seperti aku menyukai mint ice cream yang membekukan lidahku. Dia mirip seperti itu, paling dingin dari yang terdingin."

Cerita diawali dari keinginan seorang editor-in-chief majalah traveling "Travel Lovers", Patricia, untuk membuat sebuah rubrik baru bernama "Wherever You Want". Dalam rubrik itu, para pembaca akan menentukan sendiri kemana peliputnya (reporter dan fotografer) akan pergi.

Adalah Lula, reporter yang seakan ketiban durian runtuh karena ditunjuk sebagai peliput rubrik baru itu. Bagaimana tidak ketiban durian runtuh, kalau dia akan berpasangan dengan Leon, fotografer cool yang digila-gilainya sejak lama. Saking semangatnya, Lula sampai mengusulkan untuk mereka mengenakan couple tee dalam perjalanan mereka.

Perjalanan ke Padang adalah perjalanan dimulainya kisah seru antara si Ratu Drama dan si Raja Es. Ratu Drama memang pantas melekat pada diri Lula. Dengan karakternya yang blak-blakan, yang bahkan dengan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Leon, sepertinya tidaklah mengejutkan kalau tingkah konyol bisa saja dia lakukan. Seperti adegan drama yang dia lakukan di bandara saat menunggu kedatangan Leon, atau aksi ngambeknya di depan kamar Leon yang membuatnya hampir diusir petugas keamanan hotel.
Tingkah konyol Lula mau tidak mau membuat Leon yang dingin geregetan dibuatnya. Aksi saling balas di antara Lula dan Leon terus berlangsung selama perjalanan.

Perjalanan Lula dan Leon di Tilanga, Tanah Toraja, melelehkan kebekuan hati Leon. Saat menyelamatkan Lula ketika tenggelam di danau, Leon mulai menyadari kalau Lula lebih dari sekedar teman seperjalanan yang berisik dan mengganggu ketenangannya.

Tapi tidak semudah itu Leon mengakui perasaannya. Ada Anika, tunangan Leon yang begitu cantik dan sempurna, yang muncul di tengah perjalanan mereka. Ada juga Rifo, cinta pertama Lula, yang membuat Leon merasa dilupakan. Banyak kesalahpahaman yang terjadi yang membuat perasaan Lula dan Leon yang bersambut tidak kunjung saling bertemu.

"Ya, aku tahu. Aku mengingatkan diri, jangan berharap berlebihan kalau tidak mau jatuh sakit. Mengagumi tanpa berharap adalah jalan yang paling aman."

***

The Mint Heart adalah novel kedua dari seri Love Flavour yang saya baca. Secara efek samping, dibanding novel sebelumnya, The Mint Heart membuat mood saya lebih baik. Karakter kedua tokohnya berhasil membuat saya terus membaca setiap halamannya dengan lancar.

Novel tentang perjalanan memang selalu membuat saya bersemangat membacanya. Memang sih, tidak sedetil yang saya inginkan, tapi mengunjungi Padang, Pulau Sikuai, Tanah Toraja, Makassar, dan Yogyakarta adalah impian perjalanan yang too good to be true untuk saya lakukan secara estafet dalam satu waktu. Jadi, berimajinasi dulu boleh lah...

Poin kedua yang saya suka dari novel ini adalah cara penyampaiannya. Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dari kedua sisi tokoh. Baik Lula maupun Leon menyampaikan cerita mereka  masing-masing. Hal ini membuat ekspresi dan perasaan kedua tokoh tergambar dengan jelas. Oh ya, kalau Leon digambarkan sebagai sosok ganteng, berbadan atletis dengan suara beratnya, saya kurang mendapat tampilan fisik seorang Lula. Kecuali penggambaran mata besarnya yang seperti boneka dan kardigan abu-abu usang yang setia melekat di badannya. Culunkah ia? Cantikkah? Meskipun dipastikan tidak secantik Anika, saya jadi penasaran...

Karakter kedua tokohnya lumayan bikin gemes. Rasanya seperti nonton drama Korea, dimana si cewek yang ceroboh dan si cowok yang dingin kemudian luluh dan melakukan apapun demi menjaga perasaan si cewek. Ada ya cewek yang segila itu suka sama cowok? Maksudku, terang-terangan menunjukkan perasaannya. Menyimpan banyak foto si cowok, bahkan memotong bagian foto orang lain. Menyimpannya dalam folder sendiri dalam komputernya. Kalau dipikir-pikir agak serem ya... :D
Sifat Leon yang berubah setelah menyadari rasa sukanya juga agak berlebihan, tapi lucu sih.. Demi menjaga perasaan si cewek, Leon mulai bertingkah aneh dan gak wajar. Hmmm...

Tadinya saya berharap Leon bisa mengungkapkan perasaannya sebelum perjalanan berakhir, tapi nyatanya penulis memperpanjang kesalahpahaman di antara kedua tokoh dan memasukkan karakter Juno sebagai cupid bagi mereka berdua.
Ending-nya kurang nendang, but it was okay...

"Cintaku adalah satu hal yang tak pernah berubah, meski perjalanan membawaku dari satu kisah ke kisah lainnya. Cintaku tak berubah sedikit pun, masih sama seperti aku menyukai mint ice cream.

Happy Reading! :)

you can find the book on bukabuku.com

Review ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014 di http://kubikelromance.blogspot.com/2013/12/update-indonesian-romance-reading.html
Review ini diikutkan dalam Indiva Readers Challenge 2014 di http://indivamediakreasi.com/indiva-readers-challenge-irc-2014/
...dan tentu saja review ini diikutkan dalam BBI Review Challenge...