Monday, September 29, 2014

Herr Der Diebe: Pangeran Pencuri

12498187 

Judul: Herr Der Diebe: Pangeran Pencuri
Penulis: Cornelia Funke
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 420 halaman
Cetakan kedua: Maret 2011
Goodreads Rating: 3.92/5.00

Kita tidak bisa langsung tahu apakah seseorang benar-benar baik atau tidak. Dan dari tampangnya juga tidak kelihatan

Selamat datang di kota Venezia!

Mari berpetualang di Kota Rembulan ini bersama segerombolan anak kecil, melintasi kanal-kanal dan gang-gang yang tersebar di banyak tempat di kota terapung ini.

Sejak kecil ibu selalu bercerita pada Prosper dan Bo, dua orang kakak beradik, tentang indahnya kota Venezia dengan banyak patung singa dan malaikat yang melindunginya. Oleh karena itu, setelah ibu meninggal, sementara bibi Esther ingin memisahkan Prosper dan Bo, kedua bersaudara ini dengan nekat meninggalkan Hamburg menuju Venezia, kota yang diyakini mereka akan memberi kehidupan yang lebih baik.

Di Venezia, Prosper dan Bo berkenalan dengan segerombolan penjahat kecil yang dipimpin oleh Scipio, sang Pangeran Pencuri, seorang perempuan yang menyebut dirinya Tawon, Riccio si Rambut Landak, dan Mosca si Muka Arang. Mereka tinggal di bangunan bekas bioskop yang tidak terpakai, terkecuali Pangeran Pencuri yang entah tinggal dimana. Gerombolan ini menyebut tempat itu Istana Bintang. Mereka hidup dari pencurian yang dilakukan Scipio yang kebanyakan adalah barang-barang antik yang kemudian dijual kepada pedagang barang antik yang tamak, Ernesto Barbarossa.

Melalui Barbarossa, Scipio mendapat misi melakukan pencurian yang diminta oleh seorang Conte. Bukan barang berharga seperti emas ataupun permata, hanya sebuah sayap patah yang usang. Kali ini, teman-temannya yang lain ingin ikut beraksi bersama Scipio. Berhasilkah?

Sementara itu, Paman dan Bibi tidak akan membiarkan Prosper dan Bo pergi begitu saja. Mereka mendatangi Victor Getz, seorang detektif yang akan disewa mereka untuk menyelidiki keberadaan Prosper dan Bo di Venezia. Tidak butuh waktu lama bagi Victor untuk menemukan kedua anak itu. Sayangnya, tidak semudah itu untuk membawa keduanya ke hadapan Paman dan Bibinya. Alih-alih menangkapnya, Victor malah sukses dibuat kewalahan oleh gerombolan cilik itu sampai-sampai harus berurusan dengan polisi.

Kehadiran Victor bukan hanya membuat keberadaan persembunyian gerombolan cilik itu di Istana Bintang terungkap, tapi juga identitas asli Pangeran Pencuri yang bisa membuat keretakan hubungan mereka. Belum lagi rencana pencurian di rumah Ida Spavento itu tidak sengaja terungkap karena Bo yang polos menceritakannya pada Victor.

Sang Rembulan. Sekutu yang sakti, yang sanggup mewujudkan mimpi dan membukakan pintu apabila seseorang ingin pindah dari dunia ini ke dunia lain
***



Orang dewasa tidak ingat lagi, bagaimana rasanya, menjadi anak-anak.
Walaupun mereka mengaku begitu.
Mereka tidak tahu lagi. Percayalah padaku.
Mereka sudah lupa semuanya.
Betapa dunia dahulu berkesan lebih besar bagi mereka.
Betapa repotnya memanjat ke atas kursi.
Bagaimana rasanya kalau harus selalu menengadah?
Lupa.
Mereka tidak tahu lagi.
Kau pun akan melupakannya.
Kadang-kadang orang dewasa bercerita, betapa indahnya ketika mereka masih anak-anak.
Mereka bahkan bermimpi menjadi anak-anak lagi.
Tetapi apa yang mereka mimpikan ketika masih anak-anak?
Tahukah kau?
Aku rasa, mereka bermimpi ingin cepat-cepat dewasa.

Kembali membaca novel anak-anak itu....sangat menyenangkan :D
Kita akan diajak kembali mengenakan jiwa anak-anak, melakukan tindakan yang kesannya spontan dan tanpa perlu berlama-lama memikirkan apa efek baik dan buruknya di kemudian hari.

Herr Der Diebe membawa kita menikmati keindahan Venezia yang tidak pernah sepi dari kunjungan para turis. Penulis menceritakan detil Venezia dengan apik, bahkan sampai ke laguna dan pulau-pulau di dekat Venezia. Venezia yang romantis dan penuh dengan nuansa keajaiban menjadi seru dan penuh petualangan di tangan bocah-bocah penghuni Istana Bintang. Belum lagi pertemuan mereka dengan detektif Victor Getz dan fotografer Ida Spavento yang membawa mereka terlibat dalam peristiwa yang tidak biasa.

Karakter yang dibangun penulis beraneka ragam. Scipio yang misterius, Prosper yang dewasa, Riccio yang penuh rasa ingin tahu, Bo yang polos (kadang-kadang kepolosannya membuat saya jengkel :D), detektif Victor yang selalu sial jika berhadapan dengan gerombolan anak-anak itu.

Buku ini bercerita tentang keinginan anak-anak yang ingin cepat-cepat dewasa. Melihat mereka yang hidup sendiri di keramaian Venezia tanpa ada orang tua yang melindungi dan menghidupi, wajar jika mereka bertindak tidak seperti anak-anak kebanyakan. Prosper yang ingin cepat dewasa agar bisa melindungi dan mencegah Bo, adiknya, direbut oleh sang bibi. Begitu juga dengan Scipio yang ingin cepat-cepat dewasa karena ingin bertanggung jawab sendiri atas hidupnya.

Awalnya, saya tidak membayangkan novel ini akan bercerita lebih dari petualangan. Tapi, mengingat Cornelia Funke adalah penulis novel Trilogy Inkheart, tidak mengagetkan bahwa terselip kisah fantasi di dalamnya ketika sayap kayu yang coba dicuri Pangeran Pencuri adalah bagian dari keajaiban yang bisa mengabulkan keinginan mereka yang ingin menjadi dewasa.

Setelah lama puasa baca novel anak-anak, novel ini semacam obat untuk mengembalikan kenangan akan kecintaan saya akan novel anak-anak. Sepertinya memang harus berlanjut :D

Happy Reading! :)

Review ini diikutkan dalam Indiva Readers Challenge 2014 di http://indivamediakreasi.com/indiva-readers-challenge-irc-2014/
..dan tentu saja review ini diikutkan dalam BBI Review Challenge...

0 comments:

Post a Comment