Wednesday, April 23, 2014

London: Angel

Judul: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 330 halaman
Cetakan ketiga, 2013
Goodreads Rating: 3.66/5.00

"Kau harus mengatakannya segera. Jangan menunda. Jangan habiskan separuh hidupmu untuk menunggu waktu yang tepat. Seringnya, saat kau sadar, waktu yang tepat itu sudah lewat. Kalau sudah begitu, kau cuma bisa menyesal."
Gilang membutuhkan waktu delapan tahun untuk menyadari bahwa dia telah mencintai sahabat kecilnya, Ning. Tidak ada keberanian untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung karena ikatan persahabatan yang tidak ingin dirusak Gilang. Ketika ingin mengungkapkan, hanya rasa penyesalan yang terjadi karena Ning sudah jauh pergi untuk kuliah dan kemudian bekerja di London, Inggris.

Suatu malam di Bureau, bersama teman-temannya, Gilang membuat keputusan untuk pergi ke London dan mengungkapkan cintanya secara langsung. Dengan bantuan teman-temannya pula, segala tiket dan akomodasi untuk tiba dan selamat sampai tujuan, telah dipersiapkan semua untuk Gilang.

Hanya waktu lima hari yang dimiliki Gilang untuk berada di London. Harapannya yang terlanjur tinggi seketika jatuh terjungkal ke tanah ketika mengetahui Ning tidak berada di kediamannya, begitu juga dengan keesokan hari ketika disadari rumah itu masih juga sepi.

Tanpa Ning, Gilang berusaha mencari penghiburan lain dengan berkeliling London. Mengunjungi London Eye, yang tadinya Gilang hanya berniat melihatnya dari jauh karena dia yang tidak nyaman dengan ketinggian. Tapi ajakan seorang gadis yang dijuluki Gilang mirip Goldilocks membuat Gilang tidak kuasa menolak dan pasrah (tapi rela) mengikuti langkah gadis itu menaiki London Eye.

Di tengah kecemasan hatinya untuk segera mengungkapkan perasaannya pada Ning, Gilang dibuat penasaran dengan kehadiran gadis Goldilocks itu. Gadis itu selalu muncul tiba-tiba, ketika hujan turun. Gadis itu juga menghilang secara tiba-tiba ketika hujan berhenti. Apakah perkataan penjaga toko di James Smith & Sons itu benar? Hujan terkadang membawa malaikat turun bersamanya...

Gilang baru bertemu dengan Ning di hari ketiga keberadaanya di London. Ning tentu saja sangat bahagia bertemu seorang sahabat yang pasti sangat dirindukannya. Bersama Ning, Gilang mendapat tur London dengan seorang pemandu. Di tengah-tengah pertemuan kembali mereka, Gilang berusaha mencari celah untuk segera mengungkapkan perasaannya.

Menunggu cinta bukan sesuatu yang sia-sia. Menunggu seseorang yang tidak mungkin kembali, itu baru sia-sia.
***

London yang muram dan kelabu, tergambar jelas dalam novel London milik Windry Ramadhina ini. Saya merasa setting suasananya pas dengan kisah cinta Gilang terhadap Ning. Saya suka penggambaran London yang seperti ini, mengingatkan pada film-film detektif berlokasi di Inggris dengan bangunan aristokrat dan kesan muramnya.

Cover buku berwarna merah dan payung milik Goldilocks yang berwarna merah. Pintar banget merebut hati saya dengan warna merah :) 'Don't judge a book by its cover' emang benar, tapi warna merah susah untuk tidak merebut perhatian saya. Apalagi penulis menyelipkan hal-hal berbau The Lord of The Rings dalam penceritaannya. You've found my hot button!

Dari keseluruhan kisah Gilang mengejar cinta Ning, maaf kalau harus saya katakan kalau side story yang ada malah menjadi kisah favorit saya di novel ini. Kisah perjuangan Mr. Lowesley untuk memberikan kebahagiaan kepada Mrs. Ellis menjadi adegan favorit saya, terutama ketika Mrs. Ellis menemui Mr. Lowesley di tempat kenangan mereka dengan guyuran air hujan yang begitu deras. Saya kok merasa adegan ini malah menjadi yang paling memorable dari novel ini.

Judul Angel dalam novel ini menggambarkan kehadiran Goldilocks yang misterius dalam perjalanan Gilang selama di London. Sayangnya, saya tidak menemukan kaitan yang erat antara kemunculan Goldilocks dengan 'cinta' Gilang yang akhirnya dipertemukan nanti. Apalagi di pertemuan-pertemuan awal, Gilang tidak menunjukkan tanda-tanda memiliki kesan khusus terhadap wanita itu.

Saya memang belum pernah ke London, but thanks to Windry Ramadhina telah membawa saya menikmati London yang gerimis dalam payung merah dan membiarkan aksen British menguasai imajinasi saya. Saya akan meneruskan imajinasi saya sebagai Ayu saja, berkeliling dari satu toko buku ke toko buku lainnya di London daripada mengikuti langkah Ning yang menyeret Gilang dari satu galeri ke galeri lainnya.

Happy Reading! :)

Review ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014 di http://kubikelromance.blogspot.com/2013/12/update-indonesian-romance-reading.html
Review ini diikutkan dalam Indiva Readers Challenge 2014 di http://indivamediakreasi.com/indiva-readers-challenge-irc-2014/
..dan tentu saja review ini diikutkan dalam BBI Review Challenge... 

2 comments:

Rosa Alrosyid said...

Saya juga sukaaa sama novel inii :)

Uphiet said...

betul :)

Post a Comment