Monday, April 7, 2014

Ai: Cinta Tak Pernah Lelah Menanti


Judul: Ai: Cinta Tak Pernah Lelah Menanti
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 282 halaman
Cetakan kesembilan, 2013
Goodreads Rating: 3.71/5.00

Jika kau menginginkan sesuatu, kejarlah semampumu. Jangan sampai kau menyesal.

Ai dan Sei saling mengenal sejak masih kecil. Keduanya tumbuh bersama dalam sebuah desa di pinggir pantai di Jepang. Rumah mereka berdampingan. Ai tinggal di sebuah pemandian umum bersama ayahnya, sedangkan Sei menempati sebuah restoran di sebelah pemandian itu bersama kedua orang tua dan kakaknya. Persahabatan mereka begitu erat sampai ketika remaja mereka berkenalan dengan Shin.

Shin adalah seorang pemuda seumuran dengan Ai dan Sei, yang pindah ke desa untuk tinggal bersama nenek dan kakeknya. Sejak hari pertama mereka berkenalan di restoran keluarga Sei, ketiganya menjadi akrab dan tak terpisahkan. Bahkan ketika lulus SMA mereka bertiga memutuskan untuk kuliah di Tokyo dan tinggal bersama di sebuah apartemen kecil.

Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba, kau baru sadar cinta menyergapmu tanpa peringatan.

Sei baru menyadari perasaannya terhadap Ai berbeda ketika Shin mengungkapkan perasaannya pada Ai. Pada awalnya Sei enggan mengikuti mereka untuk kuliah di Tokyo. Di satu sisi dia tidak nyaman melihat kedekatan Ai dan Shin, di sisi lain dia tidak ingin menjadi pengganggu di antara hubungan Ai dan Shin. Tapi Sei tidak kuasa menolak desakan kedua sahabatnya itu. Bersama mereka menjalani hari-hari mereka kuliah dan bekerja paruh waktu di Tokyo.

Sei menemukan pengalihan kerisauan hatinya dengan bekerja di sebuah restoran. Di sana dia bertemu dengan seorang rekan kerja bernama Natsu. Bersama Natsu, Sei seakan menemukan seorang teman lama yang bisa berbagi obrolan apa pun. Terlebih Sei merasakan kehangatan.

Pagi sebelumnya Shin memberitahu Sei kalau ia akan memberikan kejutan untuk Ai di Tokyo Tower ketika malam. Shin hanya memberitahu, bukan menyuruh Sei untuk datang. Tapi malam itu Sei tidak bisa menahan keinginannya untuk mengetahui kejutan apa yang diterima Ai. Malam itu, ketika melihat Ai bersama Shin, Sei benar-benar menyadari dia mencintai gadis itu. Lebih dari seorang sahabat yang telah dikenalnya sejak kecil.

Kebahagiaan nampaknya hanya berlangsung singkat bagi Ai. Sesuatu yang buruk terjadi pada Shin. Shin tidak akan pernah bisa menemaninya di masa depan. Ai merasa hatinya hancur, hidupnya tiba-tiba tidak punya tujuan. Sei juga merasakan hal yang sama, kehilangan seorang sahabat yang sangat berarti. Tapi dia akan ada di sana untuk menemani Ai, mendampingi di masa-masa sulitnya. Dan terus mencintai Ai...

Masa-masa sulit selalu membuat kita ingin menyerah. Tapi, kau hanya perlu percaya bahwa segalanya akan baik-baik saja.
***



Setiap orang yang pernah hadir dalam hidup kita akan selalu meninggalkan jejak.
Ai adalah novel keempat Winna Efendi yang sudah saya baca. Kali ini cerita bersetting di Jepang, dengan aroma pantai yang melekat, guguran bunga sakura yang romantis, dan pemandangan indah Tokyo di malam hari dari atas Tokyo Tower.

Winna Efendi masih setia dengan menggunakan POV dari masing-masing tokoh utamanya, meskipun kali ini hanya Sei dan Ai yang bercerita. Bedanya masing-masing POV tidak ditampilkan berselang-seling. POV pertama diceritakan dari sisi Sei, kemudian dilanjutkan POV Ai sampai cerita berakhir. Sama seperti Refrain, novel ini bercerita tentang persahabatan sejak kecil yang kemudian menumbuhkan cinta.

Sesulit apa pun, hidup harus terus berjalan. Hidup tidak punya waktu untuk menunggu orang-orang yang tidak siap melanjutkan sisa kehidupannya.

Hal-hal yang agak mengganggu ketika membaca novel ini adalah peralihan setting cerita. Ada beberapa kisah ketika Ai dan Sei pulang ke desa, awalnya saya pikir cerita masih di rumah mereka di desa tetapi ternyata sudah kembali ke dalam apartemen mereka di Tokyo. Atau antara kenangan dan mimpi yang kadang membuat saya bingung mana yang kenangan mana yang mimpi.

Aku memasukkan tangan ke saku jaket Natsu merapatkan baju hangatnya erat-erat hal.90
Kira-kira Aku (Sei) memasukkan tangan kemana? Ke jaketnya sendiri atau jaketnya Natsu? Padahal pada saat kejadian ini mereka baru berkenalan belum sehari :D
Setelah baca kedua kalinya, baru sadar antara 'jaket' dan 'Natsu' seharusnya ada tanda baca. Ya kan? 
 
Ide ceritanya mungkin terdengar klise, persahabatan jadi cinta, penyesalan yang muncul belakangan. Tapi karena ini adalah novel Winna Efendi, cerita sederhana bisa berubah jadi indah karena penyampaian dan pemilihan katanya yang indah.

Mencintai adalah hal paling indah di dunia ini, terutama ketika kau melihat orang yang kau cintai bahagia.

Happy Reading! :)

you can find the book on bukabuku.com

Review ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014 di http://kubikelromance.blogspot.com/2013/12/update-indonesian-romance-reading.html
Review ini diikutkan dalam Indiva Readers Challenge 2014 di http://indivamediakreasi.com/indiva-readers-challenge-irc-2014/
Review ini diikutkan dalam Winna Efendi's Book Reading Challenge 2014 di http://luckty.wordpress.com/2014/01/04/link-winna-efendis-book-reading-challenge-2014/
...dan tentu saja review ini diikutkan dalam BBI Review Challenge...

0 comments:

Post a Comment