Saturday, February 1, 2014

The Chocolate Chance


Judul: The Chocolate Chance
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 356 halaman
Cetakan Maret 2013
Goodreads Rating: 3.44/5.00

"LIfe is like a chocolate...You never know what you're gonna get." Forrest Gump

Orvala Theobroma, seorang perempuan pecinta cokelat. Bahkan namanya pun beraroma cokelat karena ayahnya juga penggemar cokelat. Salah satu impiannya adalah bekerja dalam hal yang berhubungan dengan cokelat. Impiannya terwujud ketika bertemu Aruna Handrian, kekasihnya yang mengajak Orvala untuk bergabung mengelola sebuah kafe cokelat, Fedde Velten Cafe, yang berkonsep Eropa yang terletak di Little Netherland, sebuah tempat di kota Semarang.

Di Fedde Velten Cafe, Orvala menumpahkan segala passion-nya. Selain sebagai kasir, Orvala seringkali bertugas di dapur ketika ada pesanan soleil choco, minuman cokelat berbahan dasar cokelat couverture, susu murni segar, gula palem, dan whipped cream. Hanya Orvala yang bisa membuatnya, meskipun banyak orang telah mencoba persis sama seperti yang dibuatnya, hasil soleil choco tidak pernah sama. Tidak hanya itu, Orvala juga terlibat dalam penambahan ide-ide yang bisa membuat kafe menjadi semakin maju.

"Seperti tumbuhan akar-akaran, mengendap saat musim kemarau dan tumbuh lagi jika musim penghujan datang. Seperti itulah cinta masa lalu. Ia tidak menghilang, hanya mengendap, menunggu sesuatu yang membuatnya bangkit lagi - tidak bisa diremehkan."

Orvala menyayangi Aruna, lelaki yang selalu mendampinginya dalam setiap suka dan duka bahkan berbagi impian dengannya. Tapi masa lalu itu kembali, tak disangka-sangka. Juno Aswanda, kakak kelas semasa SMA, kekasih yang tiba-tiba meninggalkannya tanpa kabar berita kembali muncul di hadapannya. Yang lebih mengejutkan, baru diketahui Orvala, kalau Juno dan Aruna saling mengenal, sebagai saudara sepupu.

Juno menginginkan Orvala kembali, mengganti masa-masa yang telah dilalui Orvala tanpanya. Di tengah kebimbangan Orvala, kembali muncul seorang perempuan bernama Fidela, yang pernah menjadi rebutan antara Juno dan Aruna. 

"Andai saja perasaan manusia bisa diatur, aku akan mengatur kepada siapa seharusnya perasaan ini dilabuhkan. Aku ingin menutup masa laluku - aku tidak ingin terikat statis pada masa lalu yang ingin kulupakan itu..."

***

Lihat sampulnya, jadi pengen makan. Didesain seperti chocolate bar yang bungkus atasnya sudah disobek dan tinggal digigit. NYammm...
Untunglah...baru beli sekotak cokelat Monggo dari Yogyakarta, sebagai teman menghabiskan novel ini. Jadi yang digigit cokelat aslinya ajah :D

Setelah menghabiskan The Mint Heart yang meledak-ledak, rasanya susah banget buat saya menghabiskan novel  yang lumayan tebal ini. Akhirnya...
Alurnya lambat...maju mundur. Kadang saya juga bingung dengan pemakaian POVnya yang tidak konsisten. Secara keseluruhan menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi ada juga yang tiba-tiba menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Orvala.

Penulis konsisten menyebutkan ciri yang melekat pada diri masing-masing karakter. Misalkan, Juno si mata madu atau Aruna lelaki berbehel merah dengan suara baritonnya. Begitu juga dengan penggambaran lokasi Fedde Velten Cafe.

Novel ini tidak melulu tentang cinta. Ada perjuangan keras yang harus dilalui seorang Orvala sejak masih sekolah dan hidup sendirian setelah kedua orang tuanya tiada. Ada juga tentang impian besar Aruna terhadap masa depan Fedde Velten Cafe. Penulis juga menyuguhkan berbagai filosofi tentang cokelat yang berkaitan dengan kehidupan.

"Karena hidup seperti cokelat. Perpaduan antara pahit dan manis itulah yang menjadikan serasi dan berkesan."

Happy Reading! :)

you can find the book on bukabuku.com

Review ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014 di http://kubikelromance.blogspot.com/2013/12/update-indonesian-romance-reading.html
Review ini diikutkan dalam Indiva Readers Challenge 2014 di http://indivamediakreasi.com/indiva-readers-challenge-irc-2014/
...dan tentu saja review ini diikutkan dalam BBI Review Challenge...

0 comments:

Post a Comment