Sunday, July 28, 2013

Caffe Latte

Judul: Caffe Latte
Penulis: Ca & Ce
Penerbit: Grasindo
Cetakan April 2013

"Partikel gula akan menghilang di kelamnya kopi, namun akan membuat kopi terasa manis sampai tetes terakhir."

Choi Hee Jung, menekuni seni peracikan kopi secara profesional sejak menjadi mahasiswa Manajemen di Universitas Seoul. Kecintaannya pada kopi memberikan rasa percaya diri pada Hee Jung untuk melamar menjadi barista di beberapa coffee-house. Dan Dream Coffee-House memberikan kesempatan.

Setiap hari pukul 3 sore untuk pesanan yang sama, cafe au lait, espresso plus susu hangat, masing-masing setengah gelas volume. Hee Jung tanpa sadar menantikan saat meracik pesanan itu. Tanpa sadar pula ia penasaran dengan orang di balik pesanan itu. Sampai pada suatu hari rasa penasarannya terbayar.

Itu adalah awal perkenalannya dengan Jin, pemesan cafe au lait di tiap pukul 3 sore. Di luar dugaan Hee Jung, Jin adalah seorang siswa SMU biasa. Bukannya kecewa, Hee Jung merasa senang dan antusias. Hubungan antara barista-penikmat kopi meningkat menjadi pertemanan.

Son Hyun Seok atau lebih senang menyebut dirinya dengan Ghun, datang kembali ke Seoul untuk melanjutkan sekolah magisternya sekaligus menjadi asisten dosen di kampus almamaternya.

Pertemuan pertama dengan Hee Jung terjadi di Dream Coffee-House saat Ghun berusaha untuk memprotes salah satu kopi buatan Hee Jung. Protes yang belakangan dirasa Ghun salah alamat. Pertemuan kedua Hee Jung dan Ghun terjadi di kelas Prof. Lee, dimana Ghun diposisikan sebagai asisten dosen dan Hee Jung sebagai mahasiswa di kelas itu. Dari pertemuan sebagai barista-penikmat kopi, asisten dosen-mahasiswa berlanjut menjadi hubungan lelaki-wanita dewasa. Pacaran...

Posisi Jin terancam! Sebagai orang yang selama 3 tahun ini mengklaim dirinya sebagai teman dekat Hee Jung, posisi Jin tidak akan sama lagi dengan hadirnya Ghun sebagai kekasih Hee Jung. Pertemuan tidak sesering dulu, cerita yang dibagi tidak sebanyak dulu, bahkan Jin cenderung merasa tersingkir.

Cemburu? Ya...
Rasa ingin lebih dari sekedar teman sejak dulu memang diharapkan Jin. Tapi keinginan untuk berterus terang semakin lama semakin kecil karena rasa ketidakpercayadirian Jin. Ditambah lagi Jin takut keterusterangannya akan merusak hubungan pertemanan mereka.

Tapi bukan berarti Ghun bisa memiliki Hee Jung seutuhnya. Mungkin Jin sering tersingkir secara fisik, tapi tidak dalam pikiran dan kenangan Hee Jung. Selalu ada Jin di sana...

Bukan hanya Jin yang cemburu, Ghun juga. Merasa terganggu dengan kehadiran Jin di antara dirinya dan Hee Jung. Baginya tidak ada yang namanya persahabatan antar lawan jenis. Bagi Ghun, terlihat jelas sekali kalau Jin menganggap Hee Jung lebih dari sekedar nuna.

"Sepasang kekasih bisa menjadi mantan kekasih, tidak berlaku untuk mantan teman. Bila dipisahkan dari teman, maka kau menjadi musuh."

***

Novel ini adalah buntelan dari mbak Yudith, salah satu publisher Kompas Gramedia yang diundi lewat komunitas Blogger Buku Indonesia. Thanks, mbak Yudith!! :D

Ketika disuruh milih di antara tumpukan buku di gambar, sudah merasa berjodoh dengan novel yang paling bawah, ya Caffe Latte ini. Saya penggila K-Drama sejak SMA, bahkan sempat kena imbas K-Pop wave saat masih kuliah. Sekarang? Masih sempat menghabiskan stok K-Drama meskipun hanya saat weekend atau tanggal merah. K-Pop wave-nya? Lupakan! Pengetahuan saya berhenti di boyband Super Junior sejak setahun yang lalu. Hehehe...

Sejak K-Pop wave meluas tanpa bisa dikendalikan, sejak itu pula saya tergoda untuk mengincipi novel-novel Korean style yang banyak bertebaran di toko buku. Tapi takut kecewa kalau alur ceritanya akan berasa standar and it won't surprise me at all. Pengennya kalau baca novel Korea ya yang penulisnya asli dari sononya aja.

Pas tau beneran dapat novel ini, sengaja sih gak minta wejangan mbah Google tentang seperti apa bibit, bebet, dan bobot novel ini. Please surprise me...ngarepnya.
Pas novel ini sampai di tangan..Hmm novel lokal ya? Fanfiction?
Kecewa? A little...
Tapi bukan Uphiet namanya kalau nggak menggantungkan harapan setinggi langit! :)
At least, baca novel berbau Korea-nya terwujud kan?
Anggap aja lagi nonton K-Drama seperti biasanya. Bagus kalau ceritanya gak tertebak.

Ada dua K-Drama bertema coffee-shop yang pernah saya tonton. Judulnya Coffee House dan Coffee Prince. Eh tapi karena banyak sekali setting kafe di drama-drama Korea, sangat mudah membentuk setting cerita di novel ini.

First impression, tebal ya ni novel! Tulisannya juga kecil-kecil, jadi berasa nonton 16 episode K-Drama berjudul Caffe Latte :)
source: google images
Yang bagus, baca novel ini emang beneran berasa liat K-Drama. Penggambarannya khas K-Drama. Adegan di kafe, apartemen, rumah sakit, atau saat di amusement park. Penulis juga mempertahankan pengucapan-pengucapan yang jamak kita dengar di K-Drama dalam bahasa aslinya alias bahasa Korea. Tapi sayangnya saya cuma menemukan perwujudan Kim Soo Hyun dalam diri Jin. Dua karakter lainnya saya bingung miilih siapa :D

Saya dibuat bingung dengan alur ceritanya yang maju mundur dan dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Kadangkala saya terjebak karena ternyata ceritanya sudah beranjak ke kurun waktu yang berbeda. Harus penuh konsentrasi kayaknya kalo baca. Saya juga dibuat bingung dengan nama-nama karakter pendukung. Mungkin karena nama-nama Korea seringkali saya sulit membedakan mana nama perempuan, mana nama laki-laki :P

Yang sangat mengganggu adalah ada banyak kesalahan penulisan di sana-sini. Entah itu typo, kurang spasi, atau penulisan kata asing yang tidak dicetak miring. Saking penasarannya saya sampai memberi highlight pada tiap kesalahan yang saya temukan. Kesalahan yang paling kentara adalah bergantinya kata sif menjadi shift. Mungkin pada saat pengetikan inginnya cuma mengubah kata itu, tapi hal itu berdampak besar saat kata sifat berubah menjadi shiftat, posesif menjadi poseshift, eksklusif menjadi eksklushift, dan seterusnya.

Ohya, buat yang berencana baca novel ini saya sudah rangkumkan judul-judul lagu yang dipakai penulis sebagai OST novel ini. Berikut:
  1. First Time I Meet You - Han Seung Hui
  2. Thank You - Lee Seok Hoon ft So Hyang
  3. Don't Know - 2PM
  4. Fixed Star - Infinite
  5. Partner For Life - SG Wannabe
  6. I'm Okay - December
  7. Real Story - Infinite
  8. Best Separation - 2AM
  9. Come Back Again - Infinite
  10. Break With You - Cho Kyu Hyun
Di antara kesepuluh lagu, saya paling familiar dengan track terakhir yang merupakan OST salah satu K-Drama. Ternyata track itu sudah lama ada di playlist K-Pop saya.

Ada yang mau kena sengatan K-Pop wave berikutnya?
Happy Reading! :D

Sunday, July 21, 2013

Pintu Harmonika

source: goodreads
Judul: Pintu Harmonika
Penulis: Clara Ng & Icha Rahmanti
Penerbit: PlotPoint
Cetakan: Januari 2013
Rating goodreads: 3.68/5

"Always be yourself, express yourself, have faith in yourself, do not go out and look for a successful personality and duplicate it."

Dimanakah surga di bumi?
Apakah di puncak gunung tertinggi di bumi? Ataukah tempat-tempat eksotis yang banyak tersebar di negara kita?

Bagi Rizal, Juni, dan David bukan tempat seperti itu arti surga bagi mereka. Surga adalah tempat dimana kamu bisa bebas, merasa terlindungi dan bahagia hanya dengan berada di situ.

Rizal, Juni, dan David adalah tiga anak manusia yang berbeda umur yang tinggal bertetangga dalam tiga deret ruko warna-warni yang mirip pintu harmonika.

Rizal yang hanya tinggal berdua dengan sang ayah yang memiliki toko kelontong. Juni yang tinggal dengan kedua orang tua dan adik kecilnya, Diba, di ruko percetakan sablon mereka. Kemudian David yang tinggal berdua dengan sang ibu, pemilik toko roti, dengan kue malaikatnya yang terkenal.

Dengan kehidupan tinggal di ruko yang membosankan, mereka tidak sengaja menemukan sebuah tempat yang membuat mereka bisa merasa bebas, aman, dan bahagia. Tempat yang berada di belakang ruko mereka. Tempat yang kemudian mereka sebut Surga. Rizal, Juni, dan David bagai saling menemukan kakak atau adik yang tak pernah mereka miliki. Sebenarnya tidak melulu mereka menghabiskan waktu bersama-sama di Surga itu. Seringkali Rizal dengan gadgetnya dan sibuk dengan dunia maya bentukannya, sedangkan Juni dan David tenggelam dalam buku-buku detektif mereka.

Sampai suatu hari Surga mereka terancam hilang. Berbagai cara dilakukan mereka untuk mempertahankan Surga. Berhasilkah?

Novel ini terbagi 3 cerita yang ditulis masing-masing penghuni Surga dalam jurnal mereka.

Rizal yang memiliki dua dunia, sebagai anak pemilik toko kelontong yang sederhana. Dimana di waktu senggang, Rizal harus berpeluh dengan tugas angkat-angkat galon atau mengantar tabung elpiji ke para pelanggan. Di kehidupannya yang lain, Rizal adalah sosok populer di dunia maya yang kemudian berimbas menjadikan dia sosok idola di sekolah. Pengagum Bruce Lee yang tak pernah bisa menangis meski saat ibunya meninggal, sampai kemudian dia menemukan Surga.

Juni, remaja perempuan yang pintar dan menjadi korban bullying teman sekolahnya. Beruntung Rizal yang merasa dirinya titisan Bruce Lee mengajarinya teknik beladiri, setidaknya untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam. Namun, kepercayaan dirinya yang kembali malah membuat dia balik menjadi tukang bully.

David, anak kecil yang merasa dirinya jauh lebih dewasa dari anak-anak seusianya. Merasa seperti Sinichi Kudo yang terjebak dalam tubuh kecil Conan Edogawa. Mungkin ini adalah salah satu efek terlalu sering membaca buku-buku detektif milik Juni, sehingga sikapnya pun seperti detektif yang suka menganalisa dan menyelidiki berbagai masalah.

"Life is like a piano. The white key represent happiness and the black keys show sadness. But as we go through life, remember that the black keys make beautiful music too."

***

Another novel by Clara Ng
Kalau udah judulnya novel Clara Ng, ekspektasi saya sudah tinggi duluan. Ni novel pasti gak akan mengecewakan! Nah, mari dibahas deh...
Begitu saya googling images kata-kata "Pintu Harmonika", gambar seperti inilah yang muncul di awal-awal:
source: google images
Yah, gak salah memang. Novel ini memang berlatar cerita kehidupan penghuni ruko yang pintu rukonya bermodel pintu harmonika seperti di atas. Kalau kita amati di banyak hunian baru seperti sebuah kawasan perumahan yang berkonsep one stop living, banyak berdiri jajaran ruko dengan berbagai warna mencolok yang berbeda satu sama lain untuk setiap rukonya.

Yup, udah dapat setting ceritanya di pikiran. Ini tema gak biasa dan pikiran lima detik saya bertanya apa yang istimewa dari tempat seperti itu? Eh, tapi ini Clara Ng, my favorite author :)

Surga di bumi? Lagi-lagi saya dibuat berpikir tentang tempat yang bisa saya sebut Surga di bumi ini. Dimana tempat seperti itu di sini? Bukan indah seperti saat melihat sunrise dengan latar belakang gunung Bromo di kejauhan. Bukan juga tempat dimana saya dikelilingi buku-buku favorit. Eh, itu juga surga sih ;)
Indah itu di hati, damai itu di hati, bahagia itu di hati. Tidak peduli tempat itu berantakan, agak-agak menyeramkan dan gak layak disebut indah secara visual, kalau sudah klik di hati mungkin itu bisa disebut Surga. Begitukah?

NOvel ini terbagi dalam tiga cerita dari masing-masing penghuni Surga tentang diri dan kehidupan mereka masing-masing. Benang merah yang menyatukan ya tentang Surga tempat mereka melarikan diri dari kebosanan hidup mereka.
Tadinya saya pikir, novel ini cuma dari sudut pandang Rizal saja. Karena kisah Rizal menghabiskan hampir separuh novel. Kisah khas remaja masa kini dengan cinta-cintaan, popularitas, dan tentunya eksis di dunia maya. Hmm, ini teenlit? Seru sih tapi gak ada kejutannya.
Jurnal kedua berkisah tentang Juni. Jujur saya agak bosan baca di kisah kedua ini. Sehari berhenti baca karena gak klik sama ceritanya. Untungnya kisahnya gak sepanjang Rizal, dan untungnya saya bertahan baca sampai selesai. Hehehe...
Jurnal ketiga bercerita tentang David. Tadinya saya pikir David bukanlah karakter penting dari novel ini karena porsinya tidak sebanyak Rizal atau Juni. Tapi...menurut saya kisah David paling tidak terduga dan memberikan bitter sweet ending buat novel ini.

Benarkan? kalau tulisannya Clara Ng pasti ada yang gak biasa, dan itu paling terasa di jurnal David.
Ohya, novel ini juga kolaborasi Clara Ng dan Icha Rahmanti, penulis novel Cintapuccino yang sudah difilmkan itu. Hmm, filmnya saya sudah liat tapi belum baca novelnya jadi maklumi ya kalau tidak begitu mengenal gaya kepenulisan Icha Rahmanti :)
Kalau diliat dari profilnya, Icha Rahmanti adalah pembaca buku-buku detektif. Nah, mungkin itu juga yang mengilhami karakter David di novel ini.

Kalau biasanya saya lebih memilih baca novel yang kemudian diadaptasi menjadi film daripada kebalikannya. Tapi ternyata (karena ketidaktahuan juga sih) saya sekarang baca novel yang diadaptasi dari skenario film layar lebar. Tapi gpp juga sih karena ceritanya juga ditulis oleh Clara Ng :D

source: google images
Eh, tapi filmnya sudah tayang sebulan dua bulan yang lalu. Yang penasaran cari dvdnya aja deh. Hehehe...

Happy Reading! :D

you can find the book on bukabuku.com

Tuesday, July 2, 2013

2



Judul: 2
Penulis: Donny Dhirgantoro
Penerbit: Grasindo
Cetakan: 2011
Rating goodreads: 3.49/5

Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikitpun tidak pernah.

 Gusni Annisa Puspita, terlahir dengan kelebihan yang melekat pada dirinya yaitu ukuran tubuh yang lebih besar dari ukuran normal seusianya. Kelebihan yang adalah keterbatasannya, yang baru diketahuinya kenapa ketika usia Gusni menginjak 18 tahun.

Sejak kecil tinggal di keluarga harmonis, dengan Mama dan Papa yang selalu menjadi pendukung setia, penyemangat abadi dan sahabat terbaik membuat Gusni selalu bersyukur dengan hidupnya. Ditambah lagi dengan sang kakak, Gita, yang tak pernah berhenti menjadi inspirasi tersendiri bagi Gusni.

"Cita-cita itu,...sesuatu yang baik buat kamu waktu kamu besar nanti. Sesuatu yang buat kamu senang kalau melakukannya...kalau kamu nggak senang, berarti itu bukan cita-cita kamu..."

Apa itu cita-cita? Gusni mengenal apa yang namanya cita-cita semenjak Gusni mengenal Harry ketika masih SD. Karena Harry, Gusni mulai menemukan impiannya. Hidup di keluarga yang mencari nafkah dari memproduksi shuttlecock alias kok, Gusni dan keluarganya sangat menggemari olahraga badminton atau bulutangkis. Mungkin bukan hanya keluarga Gusni, tapi juga seluruh Indonesia karena badminton adalah salah satu cabang olahraga yang berhasil membawa Indonesia ke puncak kehormatan dengan prestasinya. Satu peristiwa yang membuat Gusni tidak pernah lupa adalah ketika mereka menyaksikan salah satu bukti kejayaan prestasi badminton Indonesia di dunia, saat Susi Susanti merebut emas pertama Olimpiade. Binar kebahagiaan itu, rasa bangga yang menyesakkan dada itu, yang terpancar dari kedua orang tuanya saat menatap televisi waktu itu. Sejak saat itu, Gusni bertekad untuk menjadi pemain bulutangkis, bertekad untuk membahagiakan Papa dan Mama, orang-orang yang disayanginya.

Peristiwa kerusuhan Mei 1998 memisahkan Gusni dan Harry. Akibat kerusuhan, restoran Bakmi Nusantara milik keluarga Harry ikut menjadi korban dan mereka terpaksa pindah. Sejak saat itu Harry dan Gusni tidak pernah saling memberi kabar.

Gusni akhirnya mulai mengejar cita-citanya menjadi pemain bulutangkis. Meskipun kemudian terpaksa terhenti karena Gusni yang tiba-tiba pingsan di lapangan. Gusni kembali bertemu Harry ketika berusia 17 tahun. Manisnya cinta mulai dirasa Gusni bersama Harry. Kembali mengenang masa-masa SD mereka. Makan onde-onde, memberi makan ikan di taman kecil yang mereka namai taman cita-cita, atau makan nasi goreng di depan sekolah dasar mereka dulu.

Cinta selalu datang di antara kebahagiaan dan kesedihan, dan ketika kamu mencintai kamu menjadi kuat. Di antara kesedihanmu ia datang dan menguatkan, di antara kebahagiaanmu ia memberikan.

 Pada akhirnya Gusni tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, pada tubuhnya yang lain daripada anggota keluarganya yang lain. Bahwa hidupnya bisa berakhir kapan saja tanpa bisa diduga. Tapi Gusni memilih untuk tidak menyerah. Gusni memilih untuk bangkit dan melawan.

Layaknya hidup adalah tantangan yang harus dihadapi dengan berani, dan setiap kita pun tahu, kita menjadi baik karenanya. Manusia tidak akan mencapai tingginya langit dan dalamnya samudera jika hidup adalah sempurna, karena hanya seorang pengecut mengharapkan hidup yang sempurna.

***

2 adalah novel kedua dari Donny Dhirgantoro. Entah apa maknanya. Apakah karena ini novel keduanya? Atau karena tokoh utamanya adalah anak kedua? Atau karena...kehidupan ini diciptakan dua kali, yang pertama di pikiran kita dan yang kedua di dalam kehidupan nyata <--- okay yang terakhir ini alasan yang dibuat-buat saya saja :D

Apa yang membuat saya tertarik dengan novel ini?
Pertama adalah warna covernya. Merah menyala! Sebagai lady in red alias tiap hari ngantor pake seragam merah, warnanya sangat mewakili saya. Hehehe...
Tulisan warna 2 yang berwarna putih seakan menunjukkan bahwa novel ini adalah tentang nasionalisme, tentang kecintaan pada bangsa dan negara. Ya...ada benarnya ada enggaknya sih...
Yang kedua, penulis novel ini adalah penulis novel 5 cm yang fenomenal itu. Yang semangat pantang menyerahnya banyak menginspirasi para pembacanya. Jadi...tidak salah dong saya mengharapkan novel ini setidaknya sama dengan novel sebelumnya atau malah lebih. Ya kan...

Awalnya agak terkaget-kaget dengan gaya bercerita penulis yang mencoba melucu di beberapa bagian novel ini. Tapi hasilnya menurut saya terkesan aneh! Lebay ah penggambarannya.. Tapi mungkin menjadi tidak masalah kalau kita fokus pada jalan cerita yang menyentuh dan perjuangan Gusni yang luar biasa.

Karakter-karakter yang dibentuk penulis tidak henti-hentinya membuat saya jatuh cinta. Papa, Mama, Gita, Harry, Pak Pelatih, bahkan kedua sahabat Gusni, Nuni dan Ani yang tidak mengenal putus asa dan selalu mendukung perjuangan Gusni.

Bukan perjuangan Gusni saja yang diceritakan penulis, tapi juga bulutangkis. Melalui bulutangkis, Gusni memang mencoba berjuang untuk hidupnya dan kebahagiaan keluarganya. Tapi bulutangkis bukan cuma tentang perjuangan Gusni seorang. Bulutangkis adalah kebanggaan bangsa Indonesia. Kapanpun dan dimanapun para atlet nasional sedang bertanding, bangsa Indonesia tidak henti-hentinya mendukung dan berharap akan kemenangan mereka. Bulutangkis tidak hanya tentang olahraga tapi juga harapan. Di tengah hidup yang seringkali menghadirkan kekalahan pada diri individu di negara ini, kemenangan para atlet nasional di turnamen adalah harga diri bangsa dan pembuktian bahwa harapan masih ada. Begitu kali ya...

Kebiasaan penulis yang seringkali mengulang frase penyemangat di dalam alur cerita seperti di novel 5 cm juga digunakan dalam novel 2 ini. Sepertinya penulis tidak hanya menjadikannya sebagai bumbu cerita tetapi juga dapat meresap ke dalam pikiran para pembaca dan menjadikannya sebagai inspirasi dan juga penyemangat dalam hidup.

Jangan coba-coba bekerja keras, tetapi tanpa impian, tanpa impian yang membakar diri dan benak kamu setiap hari, berkeringat, lelah...tetapi tanpa makna, melangkah tetapi tanpa tujuan, bangun di pagi hari menyesali apa yang kamu lakukan, bekerja keras tanpa impian, buat saya..., kamu...hanyalah pembual nomor satu bagi dunia.

Melalui novel ini saya banyak diingatkan. Impian itu buat dikejar, bukan cuma dibayangin terus dibawa tidur. Kalau punya impian semestinya kita segera bangun, cuci muka, dan kejar mimpi kita dengan kerja keras. Ya kan?
Oh ya, salah satu kalimat favorit saya adalah yang diucapkan Harry pada Gusni di hari saat mereka berbicara tentang cita-cita, yaitu "Kata Mama Harry...lebih enak jadi orang gendut, karena ukuran hatinya pasti lebih besar."
Hehehe, saya sih merasa gak gendut, tapi semoga ukuran hati saya gak kalah besar sama orang gendut :D

Happy Reading! :D

you can find the book on bukabuku.com