Wednesday, June 26, 2013

Negeri Van OranJe


Judul: Negeri van Oranje
Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan Pertama, April 2009

Manusia itu dikutuk terus-menerus untuk membuat pilihan demi pilihan dalam hidup.


Rokok kretek menyatukan kita...
Mungkin itu ungkapan yang tepat menggambarkan pertemuan pertama lima orang mahasiswa post-graduate asal Indonesia yang sedang terdampar di Belanda. Gara-gara terjebak badai di Amersfort; Banjar, Wicak, Daus, Geri, dan Lintang saling berkenalan. Perkenalan mereka dimulai dari tawaran rokok kretek yang teramat langka di negeri itu, aroma kretek itu berhasil memancing manusia Indonesia lainnya untuk mendekat, yang kemudian diikuti obrolan perkenalan satu sama lain.

Irwansyah Iskandar alias Banjar, anak saudagar bawang asal Banjarmasin, seorang eksmud sukses yang gara-gara tantangan temannya berani meninggalkan kemewahan hidupnya untuk menjadi mahasiswa berkantong pas-pasan di sekolah bisnis ternama di Rotterdam, Belanda.
Wicak Adi Gumelar, anak Banten asli yang menjadi aktivis LSM. Usahanya untuk menyelidiki illegal logging di pedalaman Kalimantan dengan menyamar menjadi pekerja di sana, membuat Wicak dan seorang temannya terancam nyawanya. Demi menyelamatkan mereka berdua, kantor LSM tempat mereka bernaung meng'ekstradisi' mereka ke luar negeri. Wicak memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil S2 di Belanda, dan terdamparlah dia di Universiteit Wageningen.
Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri, lulusan Fakultas Hukum yang nyasar menjadi PNS di Departemen Agama. Demi harga dirinya di acara reuni tahunan almamater berikutnya, Daus bertekad meneruskan pendidikan hukumnya ke luar negeri. Ketika muncul kesempatan, Daus mulai mengejar beasiswa S2 STUNED (Studeren in Nederlands) dengan memilih program Human Rights Law di Utrech, Belanda.
Anandita Lintang Persada, mendapat kado ulang tahun dari ibunya berupa polis asuransi atas namanya. Lintang memutuskan untuk menggunakan dana itu untuk sekolah ke luar negeri. Demi cita-cita...cita-cita mengejar jodoh seorang bule :D. Akhirnya Lintang memilih kota Leiden di Belanda untuk mengambil program master di bidang European Studies.
Garibaldi Utama Anugraha Atmadja, kuliah di Belanda sejak mengejar S1 dengan sokongan dana yang lebih dari orang tua meskipun tidak dibilang kaya raya. Kini dia memutuskan untuk melanjutkan S2 di Den Haag. Geri yang tampan, kaya, dan baik hati. Kriteria yang menurut ketiga cowok lainnya merusak standar semua cowok Indonesia seantero Belanda.

Persahabatan Aagaban alias Aliansi Amersfort GAra-gara BAdai di Netherlands ini membuat kehidupan mereka di Belanda tidak melulu sekedar bolak-balik ke kampus, ke perpus, bergadang demi tesis. Ada obrolan penuh keriuhan, candaan, bahkan kadang pertengkaran, baik lewat messenger maupun ketika bertemu secara langsung ketika saling berkunjung ke kota masing-masing. Seringkali mereka juga kompak menonton beramai-ramai berbagai festival yang sering diadakan di berbagai kota di Belanda. Banjar yang ditaksir sesama jenis, Daus yang selalu gagal melakukan sesuatu yang dilarang yang diyakininya gara-gara doa pelindung dari almarhum kakeknya, Wicak yang ternyata mengulangi kesalahan yang sama saat menyatakan perasaannya, Geri yang baik tapi misterius, serta Lintang yang ternyata diam-diam naksir Geri. Bumbu persahabatannya komplit, ada senangnya, ada dukanya, ada bercandanya, ada bertengkarnya juga.

Apa yang diharapkan dari novel yang melibatkan persahabatan empat orang lelaki dan satu orang perempuan? Yup! Cinta diam-diam alias saling memperebutkan perhatian Lintang. Siapa yang beruntung ya? :D
Belum lagi pertanyaan akan kemana mereka setelah gelar master disandang? Kembali ke tanah air untuk mengabdi atau memilih mengambil kesempatan tetap tinggal di luar negeri demi masa depan yang lebih baik?

***

Seorang teman juga memiliki tanggung jawab moral untuk berkata jujur, walaupun kejujuran kadangkala menyakiti hati teman yang disayanginya.

Seingat saya, saya dulu juga pernah baca novel yang ditulis secara keroyokan seperti ini. Traveler's Tale. Meskipun sama-sama keroyokan, Negeri van Oranje menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk bercerita. Sehingga tadinya saya pikir seolah-olah novel ini ditulis satu orang saja. Mungkin persamaannya dengan novel Traveler's Tale, masing-masing penulis mewakili masing-masing tokoh dalam novel ini kali ya...

Yang menarik dari novel ini adalah munculnya footnote seperti di buku-buku ilmiah. Seru, meskipun kadang-kadang keterangannya gak penting :D
Masing-masing karakter yang muncul dengan kekhasan tersendiri juga membuat saya betah menghabiskan novel tebal ini. Mungkin itu salah satu kelebihan dari menulis keroyokan kali ya? Sehingga masing-masing penulis bisa mempertahankan karakter tiap tokohnya sehingga tidak menjadi agak-agak mirip satu sama lain.

Yang agak menganggu adalah munculnya berbagai tips yang sengaja diselipkan di antara cerita. Mungkin akan membantu ya buat yang mau kuliah atau jalan-jalan ke Eropa, tapi buat yang ingin menikmati jalan cerita rasanya agak sedikit terinterupsi :(
Endingnya kisah cinta Lintang juga sepertinya terlalu tergesa-gesa. Kok tiba-tiba sama dia ya??

Well, buat yang ingin menikmati Belanda dan sekitarnya (karena di akhir perjalanan, geng Aagaban ini meluangkan waktu untuk traveling ke negara sekitar) tanpa perlu fisiknya berada di sana, saya rekomendasikan novel ini. Penjabaran kotanya, dengan keadaan dan suasana sekitarnya lumayan detil dan membantu imajinasi kita. Buat yang mau ke sana, bercita-cita ke sana, atau bermimpi ke Belanda sono, boleh juga dimulai dengan novel ini. Bukankah kehidupan itu terjadi dua kali? Yang pertama dimulai dari bayangan di pikiran kita, yang kemudian action di kehidupan nyata. Hihi sok bijak banget yak ;)

Happy Reading! :D

you can find the book on bukabuku.com

Sunday, June 23, 2013

RaNtau 1 MuaRa


Judul: Rantau 1 Muara
Penulis: A.Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Cetakan Kedua Juni 2013

Perjuangan tidak boleh berakhir, bahkan ketika semua tampaknya akan gagal. Sebelum titik darah penghabisan dan peluit panjang, tidak ada kata menyerah.
Man saara ala darbi washala..
Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan


Kisah dimulai dengan kepulangan Alif Fikri dari Kanada sebagai duta muda mewakili Unpad. Kesuksesannya mengarungi separuh dunia, menjadi penulis tetap di sebuah media massa lokal, serta menjadi lulusan terbaik, nampaknya membuat Alif sedikit lengah. Bagi Alif, perusahaan mana pun pasti tidak bisa menolaknya dengan nilai dan latar belakang prestasinya.

Namun Alif lulus di saat yang salah, di saat Indonesia sedang dihantam krisis moneter dan gelombang reformasi. Media yang selama ini memuat tulisannya mendadak berhenti menerima tulisan karya Alif karena alasan ekonomi yang mencekik. Sedangkan berbagai lamaran yang dikirimkan tak kunjung memberi balasan.

Siapa yang menanam, dia akan menuai.

Alif akhirnya diterima di sebuah media massa bergengsi, Derap. Sebuah media massa yang tidak memihak dan berani membela yang benar. Eh, maksudnya media massa yang memihak pada kebenaran :D

Di sana pula Alif bertemu dengan perempuan bermata indah yang membuatnya penasaran. Wartawan baru di kantornya yang lambat laun berkawan akrab dengan Alif.

Masih ingatkah dengan Randai? Kawan Alif sejak kecil sekaligus pesaing beratnya. Randai yang selalu menyulut api persaingan, dan Alif yang hampir selalu terbakar, atau sebaliknya. Tapi karena persaingan itu pulalah, hampir semua yang mereka inginkan telah tercapai. Persaingan yang juga membakar semangat satu sama lain. Karena pancingan Randai pula, Alif akhirnya kembali terdorong untuk kuliah ke luar negeri, ke Amerika, benua impiannya sejak bersama para sahibul menara dulu.

Pada akhirnya Alif benar-benar kuliah di Amerika. Alif berhasil menjadi salah satu penerima beasiswa bergengsi, Fulbright, di George Washington University. Tapi, kepergian Alif ke Amerika meninggalkan sebuah kisah yang belum dimulai antara dirinya dan Dinara, gadis bermata indah yang juga teman sekantornya di Derap.

Kemudian hidup Alif menjadi begitu mulus. Tapi bukan berarti hal itu kemudian membuatnya menjadi puas dengan pencapaiannya. Apa yang dikejarnya? Apa sebenarnya yang dicarinya?

"Jangan gampang terbuai keamanan dan kemapanan. Hidup itu kadang perlu beradu, bergejolak, bergesekan. Dari kesulitan dan gesekanlah, sebuah pribadi akan terbentuk matang. Banyak profesi di luar sana, usahakanlah untuk memilih yang paling mendewasakan dan yang paling bermanfaat buat sesama. Lalu kalau kalian nanti sudah bekerja, jangan puas jadi pegawai selamanya, tapi punyailah pegawai."

***

T-A-M-A-T
Apa mau dikata, berakhir sudah kisah penuh semangat dan menginspirasi, trilogi Negeri 5 Menara :D
Novel yang terinspirasi dari kisah hidup penulisnya sendiri ini membuktikan bahwa anak pondok tidak selamanya hanya berkutat jadi kyai, ustadz, atau hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan. Ibadah itu bisa dengan pengejaran impian, menuntut ilmu setinggi mungkin, asal bermanfaat untuk diri sendiri maupun banyak orang.

Kalau jodoh bisa disebut mengejar impian, maka itu pula yang dikisahkan penulis dalam buku ini. Berbeda dengan dua novel sebelumnya (karena memang belum waktunya kali ya), kali ini penulis menyuguhkan kisah cinta Alif dengan perempuan yang akhirnya menjadi istri dan partner yang kompak dalam menjalani hidup. Bagi yang masih ingin sendiri, kayaknya cerita di novel ini bisa menjadi nasihat dan bahan pertimbangan untuk mengubah pikiran (ini kenapa jadi merasa tersindir sendiri ya :D)

'Takkan lari jodoh dikejar.' Gunung memang tidak akan lari. Tapi jodoh? Dia punya kaki dan keinginan, dia bisa berlari ke sana kemari, kemana dia suka. Bahkan dia bisa hilang, seperti lenyap ditelan Bumi. Atau dia jatuh ke tangan orang lain.


Bagian favorit dari novel ini adalah ketika toko buku tempat Dinara bekerja, Borders, mengijinkan semua karyawan memilih buku sisa display yang menggunung. Alif dan Dinara sampai membawa gerobak dorong untuk mengangkut semua buku yang mereka inginkan. Hwaaahh, yang ini bikin iri setengah matiiiiii... :D

Tadinya berharap kisah para sahibul menara lainnya sedikit banyak diceritakan, bukan cuma sekedar ketemu dalam sebuah reuni di London yang terasa singkat. Tapi kembali lagi, ini novel biografi begitu kan, ya?
Yang jadi pertanyaan saya...Alif dan Dinara jadi keliling Eropa selama 30 hari gak ya? Kok pesawatnya langsung terbang dari Washington ke Jakarta? Hmm...


Hihihi, ini adalah mantra penyemangat yang saya kutip dari buku kedua trilogi Negeri 5 Menara, yaitu Ranah 3 Warna. Ditulis di selembar kertas kecil yang dilipat kecil dan diselipkan di dompet :D
Inget banget nulisnya saat menyelesaikan skripsi yang tak kunjung selesai. Tulisan yang sedikit banyak memberikan kekuatan untuk bertahan di saat-saat tidak mengenakkan yang pernah singgah dalam hidup saya.
Semoga novel Rantau 1 Muara ini bukan sebuah "goodbye" dari karya menginspirasi A. Fuadi lainnya, tapi cukuplah sebuah "see you" :D

Happy Reading! :D

you can find the book on bukabuku.com

Monday, June 17, 2013

THe RaiLway ChilDren


Judul: The Railway Children (Anak-anak Kereta Api)
Penulis: Edith Nesbit
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Cetakan Juni 2010

"Kurasa setiap orang mau berkawan dengan kita jika kita bersikap bersahabat." hal.182


Tiga bersaudara - Roberta, Peter, dan Phyllis - tidak pernah menduga kehidupannya yang bahagia dengan ayah dan ibu yang penyayang, segala sesuatu yang tersedia untuk mereka, akan tiba-tiba berubah menjadi kehidupan yang tidak pernah terbayangkan.
Pada suatu malam, tiba-tiba Ayah mereka pergi tanpa mereka tahu kemana. Mendadak mereka sekeluarga (tanpa Ayah) harus pindah ke sebuah tempat terpencil yang jauh dari London. Bukan anak kecil namanya kalau mereka terus menerus bersedih dan memikirkan dengan serius kejadian apa yang terjadi pada keluarga mereka. Dalam waktu singkat ketiga bersaudara itu bisa beradaptasi dengan lingkungan di sekitar Pondok Tiga Cerobong (begitu orang-orang di sana menyebut rumah ketiga bersaudara itu). Mereka mulai akrab dengan stasiun kereta yang dekat dengan tempat tinggal mereka, tidak hanya akrab dengan tempatnya, mereka juga akrab dengan orang-orang yang bekerja di sana, seperti Kepala Stasiun, Pak Perks, Juru Uap, dan masinis.

Banyak hal menarik yang mereka alami, mengenal Pak Tua, penumpang kereta api yang selalu menyambut lambaian tangan mereka dari dalam kereta. Pak Tua yang ternyata adalah orang penting dan banyak memberikan kesan baik kepada mereka. Menyelamatkan bayi dari kebakaran,menghindarkan kereta api dari kecelakaan, memberikan kejutan ulang tahun untuk Pak Perks, bahkan menyelamatkan seorang anak yang sedang terluka.

***

"Segala sesuatu pasti ada akhirnya. Yang penting, kita terus maju." hal.257


Lagi-lagi saya jatuh cinta pada buku klasik. Dan, lagi-lagi saya jatuh cinta pada novel anak-anak :D
Novel anak-anak itu seperti buku motivasi, aliran positif dan rasa optimismenya mengalir deras.
Baca saja novel ini...dan kita akan diingatkan bahwa kepolosan anak-anak, semangat pantang menyerah, dan ketulusan untuk berbuat baik pada orang lain seringkali semakin menghilang dari diri kita.

Dari judulnya "The Railway Children", tadinya saya mengira ini adalah kisah tentang ketiga anak miskin yang tinggal di sekitar rel kereta api, menjadi anak-anak miskin dengan pakaian lusuh dan berjuang untuk kehidupan sehari-hari. Tadinya...tapi dari cover novelnya aja kelihatan kalau anak-anak ini berasal dari keluarga berpendidikan dengan pakaian yang layak.

NGomong-ngomong soal kereta api. Kendaraan satu ini bukan hal baru buat saya. Hampir tiap hari malah bolak-balik pagi dan sore hari naik kendaraan yang bunyinya tut tut tut itu. Selama baca novel ini, saya juga merasa membaca on the spot di tempat kejadian perkara. Maklum novel ini adalah pengusir bosan selama menunggu kereta api maupun selama menikmati perjalanan dari berangkat sampai ke tempat tujuan.

"Tidakkah lebih baik kalau kita bayangkan diri kita sebagai tokoh-tokoh cerita yang ditulis oleh Tuhan? Kalau Ibu yang menulis cerita, mungkin Ibu akan membuat kesalahan. Tapi kalau Tuhan yang jadi Sang Pengarang, Tuhan tahu bagaimana mengakhiri sebuah cerita dengan sebaik-baiknya - yang terbaik bagi kita semua." hal. 284


Hampir semua karakter di novel ini tidak bisa tidak untuk kita sukai.Tidak terkecuali ketiga bersaudara. Roberta atau penulis lebih suka memanggilnya Bobbie, si sulung, adalah anak perempuan yang baik budi, penyayang, dan pandai memposisikan diri sebagai kakak. Terlebih bagaimana dia tidak ingin menyakiti hati ibunya dengan mengingat ayah yang "pergi" dan berusaha bergembira dengan kedua adiknya. Peter, satu-satunya anak laki-laki, yang sering berusaha bersikap sok berani demi harga dirinya di hadapan kedua saudara perempuannya. Meskipun sebenarnya Peter memang anak yang pemberani meskipun sedikit keras kepala dan suka mengganggu saudaranya. Sejak tidak ada ayahnya dia juga berusaha bersikap sebagai kepala keluarga :D
Si bungsu Phyllis, yang menggemaskan meskipun sering ceroboh, seperti tali sepatunya lepas, tersandung, memecahkan gelas, yang semuanya itu dianggapnya sebuah ketidaksengajaan.
Ibu, adalah sosok yang membentuk ketiga karakter anak-anaknya (meskipun mungkin Ayahnya juga begitu). Dari ibu, anak-anak itu mewarisi karakter yang kuat, suka menolong, penyayang, dan berbagai sifat baik lainnya.

Saya menyukai gaya bercerita Edith Nesbit yang seringkali melontarkan pendapat pribadinya yang menggelitik di antara ceritanya, seperti ketika dia akhirnya menyebut Roberta hanya dengan Bobbie saja. PEmbentukan karakter ketiga bersaudara itu yang terkesan alami dengan kepolosan dan tingkah mereka yang terkadang nakal. Bukan karakter baik yang tanpa cela seperti malaikat yang tidak sengaja jatuh ke bumi :D

Meskipun menurut saya novel ini kurang dalam bercerita tentang petualangan ketiga bersaudara dengan kereta api, novel ini tetap bacaan yang tepat untuk keluarga. Dongeng yang bagus untuk diceritakan oleh ayah dan ibu kepada anak-anaknya :)

My favorite line:
(diucapkan Peter kepada Phyllis yang tali sepatunya selalu lepas :D)
"Kalau kau menikah kelak, tali sepatumu pasti lepas waktu kau berjalan ke depan altar, dan calon suamimu akan tersandung tali sepatumu, jatuh tersungkur dan hidungnya patah terbentur lantai yang keras. Lalu kau tidak sudi menikah dengan lelaki berhidung patah, dan kau akan jadi perawan tua."

Happy Reading! :D