Monday, December 30, 2013

The Coffee Memory

Judul: The Coffee Memory
Penulis: Riawani Elyta
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: 232 halaman
Cetakan Maret 2013
Goodreads rating: 3.27/5.00

"Cinta platonis, selayaknya kopi pertama yang membuatmu terkesan, sangat terkesan, hingga tahun-tahun yang berlalu tetap tidak mampu membungkam memorimu akan cita rasa cinta, aroma, dan jenisnya, dan akan tetap mengenangnya sebagai kopi terbaik meski setelahnya kamu mengenal dan menghirup puluhan jenis kopi yang lain."

Bagi Dania, kopi adalah Andro, suaminya. Segala hal tentang kopi akan mengingatkannya pada Andro. Kepergian Andro yang tiba-tiba membuat Dania tidak bisa berdekatan dengan segala hal yang berhubungan dengan kopi. Ada banyak kenangan yang melekat.
Tetapi hidup harus berlanjut. Tanpa Andro, Dania harus meneruskan usaha kafe yang telah dirintis Andro mulai nol. Kafe Katjoe Manis, kafe yang mengkhususkan diri dalam penyajian kopi lokal bermutu tinggi.

Banyak hal harus dilakukan Dania untuk membuat roda bisnis kafenya terus berjalan. Karena sempat tutup selama beberapa minggu sejak meninggalnya Andro, kafe harus kehilangan dua karyawan yang memilih untuk mencari nafkah di tempat lain. Belum lagi harus kehilangan barista terbaik yang pernah dimiliki Katjoe Manis, yaitu Andro.
Bila sebelumnya Dania lebih banyak menjadi pendengar ataupun pemberi saran bagi Andro untuk menjalankan bisnisnya, mulai saat ini Dania memegang kendali semuanya. Perekrutan barista baru, berurusan dengan para supplier, serta gaji dan kesejahteraan karyawan. Belum lagi persaingan bisnis yang terus-menerus mengancam keberlangsungan kafe Katjoe Manis.

Tidak mudah melupakan seseorang yang begitu kita cintai. Terlebih setiap jengkal kaki melangkah ada kenangan yang melekat begitu erat tentang sosoknya. Tapi hal itu tidak membuat Dania terpuruk dalam kesedihan. Demi impian besar Andro dan demi buah hati mereka, Sultan, Dania terus berusaha melalui satu demi satu rintangan.
Kehadiran dua orang lelaki di kehidupan baru Dania, tak urung membuatnya waspada. Terlebih persepsi masyarakat terhadap wanita berstatus janda yang cenderung negatif. Pram, lelaki yang datang dari masa lalunya sebagai pemilik kafe yang menjadi ancaman bagi Katjoe Manis. Seseorang yang tidak hanya muncul menjadi pesaing, tetapi juga berusaha mendapatkan hati Dania. Dan Barry, sosok barista baru di Katjoe Manis yang muncul dengan latar belakang yang patut dicurigai oleh Dania.

"Tidak pernah kusangka, kopi jugalah yang menjadi penghubung antara aku dan kamu, juga rahasiamu dengannya."

***

Saya bukan penggemar kopi, bahkan hampir tidak pernah mencicipi rasa kopi selain permen beraroma kopi :D
Tapi...di jaman sekarang, membayangkan tentang kopi, aneka ragam racikan kopi oleh barista beserta latte art-nya, atau budaya ngopi itu sendiri, terdengar seru, keren, dan sepertinya masa kini sekali :)

Secara tampilan lumayan unik karena ada tambahan pembungkus berwarna cokelat yang sukses saya robek karena gak tahu kalau bukunya bisa meluncur keluar lewat bawah. Yaelah....
Dari sisi setting tempat, ini pertama kalinya saya membaca cerita bersetting cerita di Batam. Gak pernah ke Batam sih, gak tahu juga bayangannya seperti apa. Mungkin karena dekat dengan Singapura, cenderung modern kali ya...

Satu hal yang mengganggu saya dari pertama kali membaca adalah pemilihan cara penulisan nama kafe. Apakah nama Katjoe Manis itu sendiri merujuk pada ejaan lama atau memang begitu penulis ingin menamainya? Karena kalau menurut ejaan lama kalau ingin tulisan itu dibaca "kayu" maka penulisannya adalah "kajoe" bukan "katjoe" yang akhirnya terbaca "kacu." Hmmm....

Kalau dilihat dari sisi percintaannya, novel ini menurut saya jauh dari kesan romantis. Satu-satunya tokoh yang tergambar kuat ya sosok Dania itu sendiri. Cara Barry menyukai Dania tidak terlalu terlihat karena sering digambarkan sebagai orang yang ragu dan tidak percaya diri ketika dihadapkan secara personal pada Dania. Sedangkan cara pedekate si Pram pada Dania pun kesannya terlalu percaya diri tingkat tinggi ya..

Ada beberapa hal yang masih menggantung di akhir cerita. Misalnya tentang Redi, kakak kandung Andro yang mencoba segala cara untuk mendapat keuntungan dari bisnis kafe yang ditinggalkan Andro. Atau tentang penyebab terbakarnya kafe Katjoe Manis yang bisa saja terjadi karena sabotase orang lain.
Saya jadi membayang-bayangkan sendiri apakah Redi adalah sosok di balik peristiwa kebakaran itu? Atau mungkin ternyata Pram yang melakukannya karena sudah ketemu jalan buntu untuk mendapatkan hati Dania. Oke...oke...kenapa ini jadi mirip kisah sinetron ya? :D

Terlepas semua itu, saya suka kisah yang disuguhkan. Ada banyak pelajaran tentang proses membangun suatu bisnis yang tidak melulu mulus dan banyak tantangannya. Saya menikmati perjalanan Dania mengelola kafe Katjoe Manis yang terancam merugi, bagaimana menghadapi persaingan yang semakin sengit, mempertahankan loyalitas karyawan, ataupun bangkit lagi setelah mengalami kegagalan.

Ini adalah novel tentang perjuangan seorang wanita yang harus bangkit dari keterpurukan setelah kepergian orang yang dicintai. Ini adalah novel tentang mimpi besar dan passion seseorang yang tetap dilanjutkan meskipun orang itu telah tiada.

Happy Reading! :)

Sunday, August 25, 2013

Autumn Once More

source: goodreads
Judul: Autumn Once More - Kumpulan Cerpen Metropop
Penulis: Aliazalea, Anastasia Aemilia, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Hetih Rusli, Ika Natassa, Ilana Tan, Lea Agustina Citra, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Nina Andiana, Rosi L. Simamora, Shandy Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 232 halaman
Cetakan Kedua, April 2013
Goodreads rating: 3.64/5.00

Heaven really knows what's best for us.

 Cinta <adj>: suka sekali; sayang benar; kasih sekali; terpikat.
Ada bahagia dan kepedihan dalam cinta. Cinta yang terpendam menimbulkan resah, pengkhianatan pun tak lepas dari cinta, atau bahkan cinta berlebihan sehingga menyesakkan.

Kumcer ini mengingatkan saya pada buku kumcer sebelumnya yang pernah saya baca, yaitu Empat Musim Cinta terbitan Gagasmedia. Kalau dulu saya membacanya karena alasan penulisnya, saya memilih kumcer Autumn Once More ini karena teringat feeling yang saya dapatkan setelah membaca kumcer itu. Karena isinya kumpulan cerita, ada banyak kejutan yang saya harapkan dari cerita yang dituliskan oleh masing-masing penulis.

Ada 13 cerita yang disajikan. Itu artinya masing-masing penulis menyumbang satu cerita. Di antara ketigabelas penulis, 3 di antaranya cukup familiar di telinga saya yaitu Ilana Tan, Ika Natassa, dan AliaZalea. Mungkin karena alasan itu juga ya ketiga nama tersebut muncul di cover sebagai pemikat calon pembaca buku ini. Dari tiga penulis tersebut, hanya Ilana Tan yang karya-karyanya sudah saya baca lengkap. Novelnya Ika Natassa masih dalam waiting list untuk dibaca. Sedangkan AliaZalea belum satu pun karyanya pernah saya baca (masukkan ke daftar pencarian berikutnya :D)
Saya akan bahas cerita yang meninggalkan kesan saat membacanya, bukan karena yang lain tidak bagus. Kadang kala kesan yang tertinggal lebih karena selera. Ya, kan? :)

Cerita pertama yang berjudul Be Careful What You Wish For punya AliaZalea langsung berhasil menohok saya dengan paragraf pembukanya :)
Apa yang terjadi, Phiet?
Dikatakan kadang cinta membuat pikiran kita tidak rasional. Gara-gara suka, kadang kita mendapati diri melakukan hal-hal yang nggak akan mungkin dilakukan kalau pikiran kita seratus persen waras. Bagian nge-stalk orang yang kita suka benar-benar mengingatkanku pada seseorang. Yeah, that was me! :D
Haruskah aku melakukan seperti apa yang 'aku' lakukan di cerita ini? Berjanji jika suatu saat diberikan kesempatan bertemu seseorang yang kusuka, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu *sigh*

Cerita kedua yang berjudul Thirty Something punya Anastasia Aemilia juga cukup berkesan dengan kisah dua orang yang sudah lama berteman dan saling memendam perasaan entah karena ragu atau takut untuk mengungkapkan. Seringkali ungkapan 'tidak ada namanya persahabatan antar lawan jenis' membuktikan kebenarannya. Cukup puas dengan ending yang digantung.

Cerita ketiga yang membuat saya tersenyum geli dengan ending-nya adalah Jack Daniel's vs Orange Juice punya Harriska Adiati. Diceritakan tokoh Dennys di sini berhenti menjalani hidup yang super-duper-asyik-dan-tanpa-beban menjadi hidup yang jaga-hati-jaga-kelakuan demi mendapatkan hati seorang gadis dari keluarga baik-baik di lingkungan tempat tinggal barunya. Tapi hal yang dilakukan tidak dari hati alias pura-pura baik di permukaan tidak akan berjalan lama. Seringkali orang sibuk mencari pasangan baik-baik untuk dijadikan pendamping, tapi apakah diri orang itu sendiri sudah menjadi baik-baik buat orang yang dicarinya? Karena tidak hanya lelaki yang menginginkan perempuan baik-baik, perempuan juga menginginkan lelaki baik-baik untuk jadi pendampingnya :)

Critical Eleven punya Ika Natassa bagi saya adalah highlight dari buku kumcer ini. Entah karena gaya berceritanya yang seru atau karena cerita tentang perjalanan yang diungkapkannya. I do love traveling. Bukan tentang liburan atau mengunjungi tempat baru, tapi prosesnya itu sendiri. Menghabiskan dua jam setiap harinya dalam perjalanan membuat saya punya banyak hal yang ingin diungkapkan dalam kata-kata. Tapi ujung-ujungnya kata-kata itu tidak berhasil tertuang dengan puasnya dalam tulisan. Beberapa ungkapan Ika Natassa seolah mewakili apa yang ingin saya ungkapkan.
Travel is a remarkable thing, right? Dengan pesawat, dengan bus, dengan kereta api, berjalan kaki, somehow it brings you to a whole other dimension more than just the physical destination.
This is another thing that travel does to you. The sheer joy of laughing freely with a complete stranger. Just because laughing is a pretty good idea at the moment.
I guess this is another thing that travel does to you. You let your guard down and let yourself fall for something as random as a stranger's smile.
Melakukan perjalanan jarak jauh ke tempat kerja seringkali menjadikan mood saya konstan bahagia di setiap harinya. Bertemu banyak orang, entah orang-orang yang sudah lama kita kenal atau orang-orang baru, mengobrol tanpa ada keharusan membicarakan topik tertentu, bercanda tanpa beban, dan seringkali mengabaikan masalah yang akan kita hadapi ketika sampai di tujuan nanti. Dan seringkali ketika sampai di tujuan, saya akan merindukan saat melakukan perjalanan itu lagi.
Balik ke cerita Critical Eleven ini, saya juga suka dengan kedua karakter yang diceritakan. Dari dengar-dengar yang saya dengar *halah* cerita ini akan menjadi sebuah novel, sepertinya layak ditunggu.

Autumn Once More punya Ilana Tan mungkin bisa jadi cerita yang indah kalau saja saya belum membaca novel Autumn in Paris. Sayangnya karena saya sudah mengetahui kemana kisah cinta Tatsuya Fujisawa dan Tara Dupont akan berakhir, saya tidak mendapat greget dari cerita ini :(

Love is a Verb punya Meilia Kusumadewi juga meninggalkan sebuah senyuman setelah membacanya. Pilih mana, dikomen statusnya di social media atau diperhatikan lewat perbuatan nyata? Kadang ada orang-orang yang merasa gak penting menunjukkan kepada dunia atau supaya orang lain tahu kalau dia menyayangi seseorang. Baginya yang penting adalah rasa sayang itu sendiri yang ditunjukkan pada orang yang disayanginya.

Bacaan yang menghibur dan tidak menyita banyak waktu, habis sekali baca dalam 2 jam perjalanan bolak-balik di kereta api :D

Happy Reading! :)  

you can find the book on bukabuku.com 

Saturday, August 10, 2013

BlackJack

source: goodreads
Judul: Blackjack
Penulis: Clara Ng, Felice Cahyadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Juli 2013

"Ketika aku bercerita mengenai masalahku pada seseorang, maka orang itu akan mengambil secuil bebanku dan memikirkannya. Dia akan membantuku. Paling tidak, dia akan berusaha mencari cara untuk menolong dan meringankan bebanku."

Ashlyn, menjadikan Inggris sebagai tujuan hidup sejak kecil, tujuan yang ditanamkan lekat-lekat oleh orang tuanya. Mungkin bukan tujuan yang berasal dari keinginannya sendiri, tapi pada akhirnya di sanalah Ashlyn berlabuh.

Ashlyn bersama kedua orang sahabatnya, Laura dan Adel - yang termakan bujukan Ashlyn untuk ikut kuliah ke Inggris - memilih Northumbria University, Newcastle sebagai pilihan untuk melanjutkan kuliah.

Masa adaptasi mereka bertiga dengan Inggris dan aksen British-nya tidak akan mudah kalau saja mereka tidak mengenal mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang lebih dulu berada di sana. Dalam salah satu acara penyambutan mahasiswa baru oleh para mahasiswa Indonesia senior itulah Ashlyn mengenal Jaeed Hassan, pria Arab asal Indonesia.

Kebaikan hati, perhatian, dan sikap Jaeed padanya, membuat Ashlyn tidak bisa menolak ketika pada akhirnya Jaeed memintanya menjadi kekasih. Kehidupan Jaeed yang terlihat sedikit berbeda dengan mahasiswa kebanyakan tidak membuat Ashlyn menaruh curiga.

Mungkin memang benar cinta itu buta. Itulah yang terjadi pada diri Ashlyn. Cinta butanya pada Jaeed membuatnya seakan tutup mata tutup telinga terhadap hal-hal buruk yang coba disampaikan teman-temannya tentang sang kekasih. Jaeed yang baik hati, Jaeed yang berusaha selalu menyenangkan hatinya, Jaeed yang mencintainya. Ashlyn tetap bertahan dan mencintai Jaeed meskipun beberapa kali kecurigaan muncul tentang kehidupan Jaeed yang sebenarnya.

Nasehat dan peringatan yang dilontarkan Laura dan teman-temannya dianggap angin lalu. Kebohongan demi kebohongan Jaeed diterima dengan naif oleh Ashlyn sebagai sebuah kebenaran, terutama saat Jaeed mulai berani meminjam uang padanya dengan alasan-alasan yang membuat Ashlyn tidak bisa menolak.

Hanya sekali Jaeed mengenalkan Ashlyn pada permainan judi, yang dikatakan hanya untuk bersenang-senang. Tidak pernah ada dalam pikiran Ashlyn bahwa Jaeed seorang penggila judi. Sampai akhirnya Jaeed menghilang dengan tumpukan utang kepada Ashlyn dan beberapa temannya yang lain. Ashlyn tidak bisa melanjutkan kuliah S2nya di London karena uangnya habis dipinjam Jaeed, bahkan dia harus merasakan tidur di jalanan karena tidak mampu membayar uang sewa. Entah dimana Jaeed...

"Seburuk apa pun situasimu, ketika sahabatmu mendampingimu, kamu akan tahu bahwa semuanya bisa menjadi lebih baik."

***

Clara Ng kembali berkolaborasi dengan seorang penulis perempuan, kali ini adalah seorang penulis bernama Felice Cahyadi dalam novel berjudul Blackjack.
Kesan saya, beneran ini kisah nyata? Kalau enggak pasti aku udah ngasih rapor merah ke penulisnya karena sudah menciptakan karakter yang totally fell into love kayak Ashlyn :(
*siapa aku berani kasih rapor merah?? Haduuuuhh...
Ada ya yang mencintai cowok sebuta itu?
Eh, kalau dipikir-pikir mungkin ada ya...Kadang seseorang gak merasa kalau sedang mengalaminya dan terjebak dalam cinta buta. Ibaratnya kalau dunia ini milik berdua, yang lain ngontrak. Hehehe...Yang nyata cuma orang yang kita cintai, yang lain cuma ilusi *halah*
Yang kadang kalau kita tengok kanan kiri kita, ada orang-orang yang di dekat kita juga mengalami hal yang sama. Seringkali hal-hal semacam itu menjadi jauh lebih mudah dilihat dari sudut pandang orang ketiga.

Karakter perempuannya bikin gemesss. Tapi, mungkin karena karakter Ashlyn terinspirasi dari orang yang memang benar-benar ada di kehidupan nyata, ya memang begitu adanya...
Saya baru bisa masuk ke dalam cerita novel ini ketika Ashlyn benar-benar terpuruk dan membutuhkan seseorang untuk berbagi. Di situlah, dia baru mengerti arti sahabat yang sesungguhnya. Ya...kira-kira menjelang novel berakhir. Mungkin karena cerita semacam ini bukan jenis favorit saya kali ya, jadi susah untuk menyatu dengan cerita.

Menurut saya porsi penyampaian tentang permainan judi di novel ini sangat kurang, sehingga judul tidak benar-benar mewakili isi novel itu sendiri. Sepanjang cerita, karakter utama, Ashlyn, hanya terlibat dua kali dalam permainan judi. Tadinya, saya menduga karakter utama tidak hanya kehilangan uang karena dipakai sang kekasih untuk berjudi, tapi juga ikut terjerumus dalam bisnis perjudian itu sendiri.

Ya, novel ini mungkin tidak sesuai dengan harapan saya. Saya gagal mengenali sentuhan Clara Ng di novel ini. Tapi ending-nya bolehlah jadi penghibur kekecewaan saya.

Happy Reading! :D

you can find the book bukabuku.com

Sunday, July 28, 2013

Caffe Latte

Judul: Caffe Latte
Penulis: Ca & Ce
Penerbit: Grasindo
Cetakan April 2013

"Partikel gula akan menghilang di kelamnya kopi, namun akan membuat kopi terasa manis sampai tetes terakhir."

Choi Hee Jung, menekuni seni peracikan kopi secara profesional sejak menjadi mahasiswa Manajemen di Universitas Seoul. Kecintaannya pada kopi memberikan rasa percaya diri pada Hee Jung untuk melamar menjadi barista di beberapa coffee-house. Dan Dream Coffee-House memberikan kesempatan.

Setiap hari pukul 3 sore untuk pesanan yang sama, cafe au lait, espresso plus susu hangat, masing-masing setengah gelas volume. Hee Jung tanpa sadar menantikan saat meracik pesanan itu. Tanpa sadar pula ia penasaran dengan orang di balik pesanan itu. Sampai pada suatu hari rasa penasarannya terbayar.

Itu adalah awal perkenalannya dengan Jin, pemesan cafe au lait di tiap pukul 3 sore. Di luar dugaan Hee Jung, Jin adalah seorang siswa SMU biasa. Bukannya kecewa, Hee Jung merasa senang dan antusias. Hubungan antara barista-penikmat kopi meningkat menjadi pertemanan.

Son Hyun Seok atau lebih senang menyebut dirinya dengan Ghun, datang kembali ke Seoul untuk melanjutkan sekolah magisternya sekaligus menjadi asisten dosen di kampus almamaternya.

Pertemuan pertama dengan Hee Jung terjadi di Dream Coffee-House saat Ghun berusaha untuk memprotes salah satu kopi buatan Hee Jung. Protes yang belakangan dirasa Ghun salah alamat. Pertemuan kedua Hee Jung dan Ghun terjadi di kelas Prof. Lee, dimana Ghun diposisikan sebagai asisten dosen dan Hee Jung sebagai mahasiswa di kelas itu. Dari pertemuan sebagai barista-penikmat kopi, asisten dosen-mahasiswa berlanjut menjadi hubungan lelaki-wanita dewasa. Pacaran...

Posisi Jin terancam! Sebagai orang yang selama 3 tahun ini mengklaim dirinya sebagai teman dekat Hee Jung, posisi Jin tidak akan sama lagi dengan hadirnya Ghun sebagai kekasih Hee Jung. Pertemuan tidak sesering dulu, cerita yang dibagi tidak sebanyak dulu, bahkan Jin cenderung merasa tersingkir.

Cemburu? Ya...
Rasa ingin lebih dari sekedar teman sejak dulu memang diharapkan Jin. Tapi keinginan untuk berterus terang semakin lama semakin kecil karena rasa ketidakpercayadirian Jin. Ditambah lagi Jin takut keterusterangannya akan merusak hubungan pertemanan mereka.

Tapi bukan berarti Ghun bisa memiliki Hee Jung seutuhnya. Mungkin Jin sering tersingkir secara fisik, tapi tidak dalam pikiran dan kenangan Hee Jung. Selalu ada Jin di sana...

Bukan hanya Jin yang cemburu, Ghun juga. Merasa terganggu dengan kehadiran Jin di antara dirinya dan Hee Jung. Baginya tidak ada yang namanya persahabatan antar lawan jenis. Bagi Ghun, terlihat jelas sekali kalau Jin menganggap Hee Jung lebih dari sekedar nuna.

"Sepasang kekasih bisa menjadi mantan kekasih, tidak berlaku untuk mantan teman. Bila dipisahkan dari teman, maka kau menjadi musuh."

***

Novel ini adalah buntelan dari mbak Yudith, salah satu publisher Kompas Gramedia yang diundi lewat komunitas Blogger Buku Indonesia. Thanks, mbak Yudith!! :D

Ketika disuruh milih di antara tumpukan buku di gambar, sudah merasa berjodoh dengan novel yang paling bawah, ya Caffe Latte ini. Saya penggila K-Drama sejak SMA, bahkan sempat kena imbas K-Pop wave saat masih kuliah. Sekarang? Masih sempat menghabiskan stok K-Drama meskipun hanya saat weekend atau tanggal merah. K-Pop wave-nya? Lupakan! Pengetahuan saya berhenti di boyband Super Junior sejak setahun yang lalu. Hehehe...

Sejak K-Pop wave meluas tanpa bisa dikendalikan, sejak itu pula saya tergoda untuk mengincipi novel-novel Korean style yang banyak bertebaran di toko buku. Tapi takut kecewa kalau alur ceritanya akan berasa standar and it won't surprise me at all. Pengennya kalau baca novel Korea ya yang penulisnya asli dari sononya aja.

Pas tau beneran dapat novel ini, sengaja sih gak minta wejangan mbah Google tentang seperti apa bibit, bebet, dan bobot novel ini. Please surprise me...ngarepnya.
Pas novel ini sampai di tangan..Hmm novel lokal ya? Fanfiction?
Kecewa? A little...
Tapi bukan Uphiet namanya kalau nggak menggantungkan harapan setinggi langit! :)
At least, baca novel berbau Korea-nya terwujud kan?
Anggap aja lagi nonton K-Drama seperti biasanya. Bagus kalau ceritanya gak tertebak.

Ada dua K-Drama bertema coffee-shop yang pernah saya tonton. Judulnya Coffee House dan Coffee Prince. Eh tapi karena banyak sekali setting kafe di drama-drama Korea, sangat mudah membentuk setting cerita di novel ini.

First impression, tebal ya ni novel! Tulisannya juga kecil-kecil, jadi berasa nonton 16 episode K-Drama berjudul Caffe Latte :)
source: google images
Yang bagus, baca novel ini emang beneran berasa liat K-Drama. Penggambarannya khas K-Drama. Adegan di kafe, apartemen, rumah sakit, atau saat di amusement park. Penulis juga mempertahankan pengucapan-pengucapan yang jamak kita dengar di K-Drama dalam bahasa aslinya alias bahasa Korea. Tapi sayangnya saya cuma menemukan perwujudan Kim Soo Hyun dalam diri Jin. Dua karakter lainnya saya bingung miilih siapa :D

Saya dibuat bingung dengan alur ceritanya yang maju mundur dan dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Kadangkala saya terjebak karena ternyata ceritanya sudah beranjak ke kurun waktu yang berbeda. Harus penuh konsentrasi kayaknya kalo baca. Saya juga dibuat bingung dengan nama-nama karakter pendukung. Mungkin karena nama-nama Korea seringkali saya sulit membedakan mana nama perempuan, mana nama laki-laki :P

Yang sangat mengganggu adalah ada banyak kesalahan penulisan di sana-sini. Entah itu typo, kurang spasi, atau penulisan kata asing yang tidak dicetak miring. Saking penasarannya saya sampai memberi highlight pada tiap kesalahan yang saya temukan. Kesalahan yang paling kentara adalah bergantinya kata sif menjadi shift. Mungkin pada saat pengetikan inginnya cuma mengubah kata itu, tapi hal itu berdampak besar saat kata sifat berubah menjadi shiftat, posesif menjadi poseshift, eksklusif menjadi eksklushift, dan seterusnya.

Ohya, buat yang berencana baca novel ini saya sudah rangkumkan judul-judul lagu yang dipakai penulis sebagai OST novel ini. Berikut:
  1. First Time I Meet You - Han Seung Hui
  2. Thank You - Lee Seok Hoon ft So Hyang
  3. Don't Know - 2PM
  4. Fixed Star - Infinite
  5. Partner For Life - SG Wannabe
  6. I'm Okay - December
  7. Real Story - Infinite
  8. Best Separation - 2AM
  9. Come Back Again - Infinite
  10. Break With You - Cho Kyu Hyun
Di antara kesepuluh lagu, saya paling familiar dengan track terakhir yang merupakan OST salah satu K-Drama. Ternyata track itu sudah lama ada di playlist K-Pop saya.

Ada yang mau kena sengatan K-Pop wave berikutnya?
Happy Reading! :D

Sunday, July 21, 2013

Pintu Harmonika

source: goodreads
Judul: Pintu Harmonika
Penulis: Clara Ng & Icha Rahmanti
Penerbit: PlotPoint
Cetakan: Januari 2013
Rating goodreads: 3.68/5

"Always be yourself, express yourself, have faith in yourself, do not go out and look for a successful personality and duplicate it."

Dimanakah surga di bumi?
Apakah di puncak gunung tertinggi di bumi? Ataukah tempat-tempat eksotis yang banyak tersebar di negara kita?

Bagi Rizal, Juni, dan David bukan tempat seperti itu arti surga bagi mereka. Surga adalah tempat dimana kamu bisa bebas, merasa terlindungi dan bahagia hanya dengan berada di situ.

Rizal, Juni, dan David adalah tiga anak manusia yang berbeda umur yang tinggal bertetangga dalam tiga deret ruko warna-warni yang mirip pintu harmonika.

Rizal yang hanya tinggal berdua dengan sang ayah yang memiliki toko kelontong. Juni yang tinggal dengan kedua orang tua dan adik kecilnya, Diba, di ruko percetakan sablon mereka. Kemudian David yang tinggal berdua dengan sang ibu, pemilik toko roti, dengan kue malaikatnya yang terkenal.

Dengan kehidupan tinggal di ruko yang membosankan, mereka tidak sengaja menemukan sebuah tempat yang membuat mereka bisa merasa bebas, aman, dan bahagia. Tempat yang berada di belakang ruko mereka. Tempat yang kemudian mereka sebut Surga. Rizal, Juni, dan David bagai saling menemukan kakak atau adik yang tak pernah mereka miliki. Sebenarnya tidak melulu mereka menghabiskan waktu bersama-sama di Surga itu. Seringkali Rizal dengan gadgetnya dan sibuk dengan dunia maya bentukannya, sedangkan Juni dan David tenggelam dalam buku-buku detektif mereka.

Sampai suatu hari Surga mereka terancam hilang. Berbagai cara dilakukan mereka untuk mempertahankan Surga. Berhasilkah?

Novel ini terbagi 3 cerita yang ditulis masing-masing penghuni Surga dalam jurnal mereka.

Rizal yang memiliki dua dunia, sebagai anak pemilik toko kelontong yang sederhana. Dimana di waktu senggang, Rizal harus berpeluh dengan tugas angkat-angkat galon atau mengantar tabung elpiji ke para pelanggan. Di kehidupannya yang lain, Rizal adalah sosok populer di dunia maya yang kemudian berimbas menjadikan dia sosok idola di sekolah. Pengagum Bruce Lee yang tak pernah bisa menangis meski saat ibunya meninggal, sampai kemudian dia menemukan Surga.

Juni, remaja perempuan yang pintar dan menjadi korban bullying teman sekolahnya. Beruntung Rizal yang merasa dirinya titisan Bruce Lee mengajarinya teknik beladiri, setidaknya untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam. Namun, kepercayaan dirinya yang kembali malah membuat dia balik menjadi tukang bully.

David, anak kecil yang merasa dirinya jauh lebih dewasa dari anak-anak seusianya. Merasa seperti Sinichi Kudo yang terjebak dalam tubuh kecil Conan Edogawa. Mungkin ini adalah salah satu efek terlalu sering membaca buku-buku detektif milik Juni, sehingga sikapnya pun seperti detektif yang suka menganalisa dan menyelidiki berbagai masalah.

"Life is like a piano. The white key represent happiness and the black keys show sadness. But as we go through life, remember that the black keys make beautiful music too."

***

Another novel by Clara Ng
Kalau udah judulnya novel Clara Ng, ekspektasi saya sudah tinggi duluan. Ni novel pasti gak akan mengecewakan! Nah, mari dibahas deh...
Begitu saya googling images kata-kata "Pintu Harmonika", gambar seperti inilah yang muncul di awal-awal:
source: google images
Yah, gak salah memang. Novel ini memang berlatar cerita kehidupan penghuni ruko yang pintu rukonya bermodel pintu harmonika seperti di atas. Kalau kita amati di banyak hunian baru seperti sebuah kawasan perumahan yang berkonsep one stop living, banyak berdiri jajaran ruko dengan berbagai warna mencolok yang berbeda satu sama lain untuk setiap rukonya.

Yup, udah dapat setting ceritanya di pikiran. Ini tema gak biasa dan pikiran lima detik saya bertanya apa yang istimewa dari tempat seperti itu? Eh, tapi ini Clara Ng, my favorite author :)

Surga di bumi? Lagi-lagi saya dibuat berpikir tentang tempat yang bisa saya sebut Surga di bumi ini. Dimana tempat seperti itu di sini? Bukan indah seperti saat melihat sunrise dengan latar belakang gunung Bromo di kejauhan. Bukan juga tempat dimana saya dikelilingi buku-buku favorit. Eh, itu juga surga sih ;)
Indah itu di hati, damai itu di hati, bahagia itu di hati. Tidak peduli tempat itu berantakan, agak-agak menyeramkan dan gak layak disebut indah secara visual, kalau sudah klik di hati mungkin itu bisa disebut Surga. Begitukah?

NOvel ini terbagi dalam tiga cerita dari masing-masing penghuni Surga tentang diri dan kehidupan mereka masing-masing. Benang merah yang menyatukan ya tentang Surga tempat mereka melarikan diri dari kebosanan hidup mereka.
Tadinya saya pikir, novel ini cuma dari sudut pandang Rizal saja. Karena kisah Rizal menghabiskan hampir separuh novel. Kisah khas remaja masa kini dengan cinta-cintaan, popularitas, dan tentunya eksis di dunia maya. Hmm, ini teenlit? Seru sih tapi gak ada kejutannya.
Jurnal kedua berkisah tentang Juni. Jujur saya agak bosan baca di kisah kedua ini. Sehari berhenti baca karena gak klik sama ceritanya. Untungnya kisahnya gak sepanjang Rizal, dan untungnya saya bertahan baca sampai selesai. Hehehe...
Jurnal ketiga bercerita tentang David. Tadinya saya pikir David bukanlah karakter penting dari novel ini karena porsinya tidak sebanyak Rizal atau Juni. Tapi...menurut saya kisah David paling tidak terduga dan memberikan bitter sweet ending buat novel ini.

Benarkan? kalau tulisannya Clara Ng pasti ada yang gak biasa, dan itu paling terasa di jurnal David.
Ohya, novel ini juga kolaborasi Clara Ng dan Icha Rahmanti, penulis novel Cintapuccino yang sudah difilmkan itu. Hmm, filmnya saya sudah liat tapi belum baca novelnya jadi maklumi ya kalau tidak begitu mengenal gaya kepenulisan Icha Rahmanti :)
Kalau diliat dari profilnya, Icha Rahmanti adalah pembaca buku-buku detektif. Nah, mungkin itu juga yang mengilhami karakter David di novel ini.

Kalau biasanya saya lebih memilih baca novel yang kemudian diadaptasi menjadi film daripada kebalikannya. Tapi ternyata (karena ketidaktahuan juga sih) saya sekarang baca novel yang diadaptasi dari skenario film layar lebar. Tapi gpp juga sih karena ceritanya juga ditulis oleh Clara Ng :D

source: google images
Eh, tapi filmnya sudah tayang sebulan dua bulan yang lalu. Yang penasaran cari dvdnya aja deh. Hehehe...

Happy Reading! :D

you can find the book on bukabuku.com

Tuesday, July 2, 2013

2



Judul: 2
Penulis: Donny Dhirgantoro
Penerbit: Grasindo
Cetakan: 2011
Rating goodreads: 3.49/5

Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikitpun tidak pernah.

 Gusni Annisa Puspita, terlahir dengan kelebihan yang melekat pada dirinya yaitu ukuran tubuh yang lebih besar dari ukuran normal seusianya. Kelebihan yang adalah keterbatasannya, yang baru diketahuinya kenapa ketika usia Gusni menginjak 18 tahun.

Sejak kecil tinggal di keluarga harmonis, dengan Mama dan Papa yang selalu menjadi pendukung setia, penyemangat abadi dan sahabat terbaik membuat Gusni selalu bersyukur dengan hidupnya. Ditambah lagi dengan sang kakak, Gita, yang tak pernah berhenti menjadi inspirasi tersendiri bagi Gusni.

"Cita-cita itu,...sesuatu yang baik buat kamu waktu kamu besar nanti. Sesuatu yang buat kamu senang kalau melakukannya...kalau kamu nggak senang, berarti itu bukan cita-cita kamu..."

Apa itu cita-cita? Gusni mengenal apa yang namanya cita-cita semenjak Gusni mengenal Harry ketika masih SD. Karena Harry, Gusni mulai menemukan impiannya. Hidup di keluarga yang mencari nafkah dari memproduksi shuttlecock alias kok, Gusni dan keluarganya sangat menggemari olahraga badminton atau bulutangkis. Mungkin bukan hanya keluarga Gusni, tapi juga seluruh Indonesia karena badminton adalah salah satu cabang olahraga yang berhasil membawa Indonesia ke puncak kehormatan dengan prestasinya. Satu peristiwa yang membuat Gusni tidak pernah lupa adalah ketika mereka menyaksikan salah satu bukti kejayaan prestasi badminton Indonesia di dunia, saat Susi Susanti merebut emas pertama Olimpiade. Binar kebahagiaan itu, rasa bangga yang menyesakkan dada itu, yang terpancar dari kedua orang tuanya saat menatap televisi waktu itu. Sejak saat itu, Gusni bertekad untuk menjadi pemain bulutangkis, bertekad untuk membahagiakan Papa dan Mama, orang-orang yang disayanginya.

Peristiwa kerusuhan Mei 1998 memisahkan Gusni dan Harry. Akibat kerusuhan, restoran Bakmi Nusantara milik keluarga Harry ikut menjadi korban dan mereka terpaksa pindah. Sejak saat itu Harry dan Gusni tidak pernah saling memberi kabar.

Gusni akhirnya mulai mengejar cita-citanya menjadi pemain bulutangkis. Meskipun kemudian terpaksa terhenti karena Gusni yang tiba-tiba pingsan di lapangan. Gusni kembali bertemu Harry ketika berusia 17 tahun. Manisnya cinta mulai dirasa Gusni bersama Harry. Kembali mengenang masa-masa SD mereka. Makan onde-onde, memberi makan ikan di taman kecil yang mereka namai taman cita-cita, atau makan nasi goreng di depan sekolah dasar mereka dulu.

Cinta selalu datang di antara kebahagiaan dan kesedihan, dan ketika kamu mencintai kamu menjadi kuat. Di antara kesedihanmu ia datang dan menguatkan, di antara kebahagiaanmu ia memberikan.

 Pada akhirnya Gusni tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, pada tubuhnya yang lain daripada anggota keluarganya yang lain. Bahwa hidupnya bisa berakhir kapan saja tanpa bisa diduga. Tapi Gusni memilih untuk tidak menyerah. Gusni memilih untuk bangkit dan melawan.

Layaknya hidup adalah tantangan yang harus dihadapi dengan berani, dan setiap kita pun tahu, kita menjadi baik karenanya. Manusia tidak akan mencapai tingginya langit dan dalamnya samudera jika hidup adalah sempurna, karena hanya seorang pengecut mengharapkan hidup yang sempurna.

***

2 adalah novel kedua dari Donny Dhirgantoro. Entah apa maknanya. Apakah karena ini novel keduanya? Atau karena tokoh utamanya adalah anak kedua? Atau karena...kehidupan ini diciptakan dua kali, yang pertama di pikiran kita dan yang kedua di dalam kehidupan nyata <--- okay yang terakhir ini alasan yang dibuat-buat saya saja :D

Apa yang membuat saya tertarik dengan novel ini?
Pertama adalah warna covernya. Merah menyala! Sebagai lady in red alias tiap hari ngantor pake seragam merah, warnanya sangat mewakili saya. Hehehe...
Tulisan warna 2 yang berwarna putih seakan menunjukkan bahwa novel ini adalah tentang nasionalisme, tentang kecintaan pada bangsa dan negara. Ya...ada benarnya ada enggaknya sih...
Yang kedua, penulis novel ini adalah penulis novel 5 cm yang fenomenal itu. Yang semangat pantang menyerahnya banyak menginspirasi para pembacanya. Jadi...tidak salah dong saya mengharapkan novel ini setidaknya sama dengan novel sebelumnya atau malah lebih. Ya kan...

Awalnya agak terkaget-kaget dengan gaya bercerita penulis yang mencoba melucu di beberapa bagian novel ini. Tapi hasilnya menurut saya terkesan aneh! Lebay ah penggambarannya.. Tapi mungkin menjadi tidak masalah kalau kita fokus pada jalan cerita yang menyentuh dan perjuangan Gusni yang luar biasa.

Karakter-karakter yang dibentuk penulis tidak henti-hentinya membuat saya jatuh cinta. Papa, Mama, Gita, Harry, Pak Pelatih, bahkan kedua sahabat Gusni, Nuni dan Ani yang tidak mengenal putus asa dan selalu mendukung perjuangan Gusni.

Bukan perjuangan Gusni saja yang diceritakan penulis, tapi juga bulutangkis. Melalui bulutangkis, Gusni memang mencoba berjuang untuk hidupnya dan kebahagiaan keluarganya. Tapi bulutangkis bukan cuma tentang perjuangan Gusni seorang. Bulutangkis adalah kebanggaan bangsa Indonesia. Kapanpun dan dimanapun para atlet nasional sedang bertanding, bangsa Indonesia tidak henti-hentinya mendukung dan berharap akan kemenangan mereka. Bulutangkis tidak hanya tentang olahraga tapi juga harapan. Di tengah hidup yang seringkali menghadirkan kekalahan pada diri individu di negara ini, kemenangan para atlet nasional di turnamen adalah harga diri bangsa dan pembuktian bahwa harapan masih ada. Begitu kali ya...

Kebiasaan penulis yang seringkali mengulang frase penyemangat di dalam alur cerita seperti di novel 5 cm juga digunakan dalam novel 2 ini. Sepertinya penulis tidak hanya menjadikannya sebagai bumbu cerita tetapi juga dapat meresap ke dalam pikiran para pembaca dan menjadikannya sebagai inspirasi dan juga penyemangat dalam hidup.

Jangan coba-coba bekerja keras, tetapi tanpa impian, tanpa impian yang membakar diri dan benak kamu setiap hari, berkeringat, lelah...tetapi tanpa makna, melangkah tetapi tanpa tujuan, bangun di pagi hari menyesali apa yang kamu lakukan, bekerja keras tanpa impian, buat saya..., kamu...hanyalah pembual nomor satu bagi dunia.

Melalui novel ini saya banyak diingatkan. Impian itu buat dikejar, bukan cuma dibayangin terus dibawa tidur. Kalau punya impian semestinya kita segera bangun, cuci muka, dan kejar mimpi kita dengan kerja keras. Ya kan?
Oh ya, salah satu kalimat favorit saya adalah yang diucapkan Harry pada Gusni di hari saat mereka berbicara tentang cita-cita, yaitu "Kata Mama Harry...lebih enak jadi orang gendut, karena ukuran hatinya pasti lebih besar."
Hehehe, saya sih merasa gak gendut, tapi semoga ukuran hati saya gak kalah besar sama orang gendut :D

Happy Reading! :D

you can find the book on bukabuku.com

Wednesday, June 26, 2013

Negeri Van OranJe


Judul: Negeri van Oranje
Penulis: Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan Pertama, April 2009

Manusia itu dikutuk terus-menerus untuk membuat pilihan demi pilihan dalam hidup.


Rokok kretek menyatukan kita...
Mungkin itu ungkapan yang tepat menggambarkan pertemuan pertama lima orang mahasiswa post-graduate asal Indonesia yang sedang terdampar di Belanda. Gara-gara terjebak badai di Amersfort; Banjar, Wicak, Daus, Geri, dan Lintang saling berkenalan. Perkenalan mereka dimulai dari tawaran rokok kretek yang teramat langka di negeri itu, aroma kretek itu berhasil memancing manusia Indonesia lainnya untuk mendekat, yang kemudian diikuti obrolan perkenalan satu sama lain.

Irwansyah Iskandar alias Banjar, anak saudagar bawang asal Banjarmasin, seorang eksmud sukses yang gara-gara tantangan temannya berani meninggalkan kemewahan hidupnya untuk menjadi mahasiswa berkantong pas-pasan di sekolah bisnis ternama di Rotterdam, Belanda.
Wicak Adi Gumelar, anak Banten asli yang menjadi aktivis LSM. Usahanya untuk menyelidiki illegal logging di pedalaman Kalimantan dengan menyamar menjadi pekerja di sana, membuat Wicak dan seorang temannya terancam nyawanya. Demi menyelamatkan mereka berdua, kantor LSM tempat mereka bernaung meng'ekstradisi' mereka ke luar negeri. Wicak memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil S2 di Belanda, dan terdamparlah dia di Universiteit Wageningen.
Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri, lulusan Fakultas Hukum yang nyasar menjadi PNS di Departemen Agama. Demi harga dirinya di acara reuni tahunan almamater berikutnya, Daus bertekad meneruskan pendidikan hukumnya ke luar negeri. Ketika muncul kesempatan, Daus mulai mengejar beasiswa S2 STUNED (Studeren in Nederlands) dengan memilih program Human Rights Law di Utrech, Belanda.
Anandita Lintang Persada, mendapat kado ulang tahun dari ibunya berupa polis asuransi atas namanya. Lintang memutuskan untuk menggunakan dana itu untuk sekolah ke luar negeri. Demi cita-cita...cita-cita mengejar jodoh seorang bule :D. Akhirnya Lintang memilih kota Leiden di Belanda untuk mengambil program master di bidang European Studies.
Garibaldi Utama Anugraha Atmadja, kuliah di Belanda sejak mengejar S1 dengan sokongan dana yang lebih dari orang tua meskipun tidak dibilang kaya raya. Kini dia memutuskan untuk melanjutkan S2 di Den Haag. Geri yang tampan, kaya, dan baik hati. Kriteria yang menurut ketiga cowok lainnya merusak standar semua cowok Indonesia seantero Belanda.

Persahabatan Aagaban alias Aliansi Amersfort GAra-gara BAdai di Netherlands ini membuat kehidupan mereka di Belanda tidak melulu sekedar bolak-balik ke kampus, ke perpus, bergadang demi tesis. Ada obrolan penuh keriuhan, candaan, bahkan kadang pertengkaran, baik lewat messenger maupun ketika bertemu secara langsung ketika saling berkunjung ke kota masing-masing. Seringkali mereka juga kompak menonton beramai-ramai berbagai festival yang sering diadakan di berbagai kota di Belanda. Banjar yang ditaksir sesama jenis, Daus yang selalu gagal melakukan sesuatu yang dilarang yang diyakininya gara-gara doa pelindung dari almarhum kakeknya, Wicak yang ternyata mengulangi kesalahan yang sama saat menyatakan perasaannya, Geri yang baik tapi misterius, serta Lintang yang ternyata diam-diam naksir Geri. Bumbu persahabatannya komplit, ada senangnya, ada dukanya, ada bercandanya, ada bertengkarnya juga.

Apa yang diharapkan dari novel yang melibatkan persahabatan empat orang lelaki dan satu orang perempuan? Yup! Cinta diam-diam alias saling memperebutkan perhatian Lintang. Siapa yang beruntung ya? :D
Belum lagi pertanyaan akan kemana mereka setelah gelar master disandang? Kembali ke tanah air untuk mengabdi atau memilih mengambil kesempatan tetap tinggal di luar negeri demi masa depan yang lebih baik?

***

Seorang teman juga memiliki tanggung jawab moral untuk berkata jujur, walaupun kejujuran kadangkala menyakiti hati teman yang disayanginya.

Seingat saya, saya dulu juga pernah baca novel yang ditulis secara keroyokan seperti ini. Traveler's Tale. Meskipun sama-sama keroyokan, Negeri van Oranje menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk bercerita. Sehingga tadinya saya pikir seolah-olah novel ini ditulis satu orang saja. Mungkin persamaannya dengan novel Traveler's Tale, masing-masing penulis mewakili masing-masing tokoh dalam novel ini kali ya...

Yang menarik dari novel ini adalah munculnya footnote seperti di buku-buku ilmiah. Seru, meskipun kadang-kadang keterangannya gak penting :D
Masing-masing karakter yang muncul dengan kekhasan tersendiri juga membuat saya betah menghabiskan novel tebal ini. Mungkin itu salah satu kelebihan dari menulis keroyokan kali ya? Sehingga masing-masing penulis bisa mempertahankan karakter tiap tokohnya sehingga tidak menjadi agak-agak mirip satu sama lain.

Yang agak menganggu adalah munculnya berbagai tips yang sengaja diselipkan di antara cerita. Mungkin akan membantu ya buat yang mau kuliah atau jalan-jalan ke Eropa, tapi buat yang ingin menikmati jalan cerita rasanya agak sedikit terinterupsi :(
Endingnya kisah cinta Lintang juga sepertinya terlalu tergesa-gesa. Kok tiba-tiba sama dia ya??

Well, buat yang ingin menikmati Belanda dan sekitarnya (karena di akhir perjalanan, geng Aagaban ini meluangkan waktu untuk traveling ke negara sekitar) tanpa perlu fisiknya berada di sana, saya rekomendasikan novel ini. Penjabaran kotanya, dengan keadaan dan suasana sekitarnya lumayan detil dan membantu imajinasi kita. Buat yang mau ke sana, bercita-cita ke sana, atau bermimpi ke Belanda sono, boleh juga dimulai dengan novel ini. Bukankah kehidupan itu terjadi dua kali? Yang pertama dimulai dari bayangan di pikiran kita, yang kemudian action di kehidupan nyata. Hihi sok bijak banget yak ;)

Happy Reading! :D

you can find the book on bukabuku.com

Sunday, June 23, 2013

RaNtau 1 MuaRa


Judul: Rantau 1 Muara
Penulis: A.Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Cetakan Kedua Juni 2013

Perjuangan tidak boleh berakhir, bahkan ketika semua tampaknya akan gagal. Sebelum titik darah penghabisan dan peluit panjang, tidak ada kata menyerah.
Man saara ala darbi washala..
Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan


Kisah dimulai dengan kepulangan Alif Fikri dari Kanada sebagai duta muda mewakili Unpad. Kesuksesannya mengarungi separuh dunia, menjadi penulis tetap di sebuah media massa lokal, serta menjadi lulusan terbaik, nampaknya membuat Alif sedikit lengah. Bagi Alif, perusahaan mana pun pasti tidak bisa menolaknya dengan nilai dan latar belakang prestasinya.

Namun Alif lulus di saat yang salah, di saat Indonesia sedang dihantam krisis moneter dan gelombang reformasi. Media yang selama ini memuat tulisannya mendadak berhenti menerima tulisan karya Alif karena alasan ekonomi yang mencekik. Sedangkan berbagai lamaran yang dikirimkan tak kunjung memberi balasan.

Siapa yang menanam, dia akan menuai.

Alif akhirnya diterima di sebuah media massa bergengsi, Derap. Sebuah media massa yang tidak memihak dan berani membela yang benar. Eh, maksudnya media massa yang memihak pada kebenaran :D

Di sana pula Alif bertemu dengan perempuan bermata indah yang membuatnya penasaran. Wartawan baru di kantornya yang lambat laun berkawan akrab dengan Alif.

Masih ingatkah dengan Randai? Kawan Alif sejak kecil sekaligus pesaing beratnya. Randai yang selalu menyulut api persaingan, dan Alif yang hampir selalu terbakar, atau sebaliknya. Tapi karena persaingan itu pulalah, hampir semua yang mereka inginkan telah tercapai. Persaingan yang juga membakar semangat satu sama lain. Karena pancingan Randai pula, Alif akhirnya kembali terdorong untuk kuliah ke luar negeri, ke Amerika, benua impiannya sejak bersama para sahibul menara dulu.

Pada akhirnya Alif benar-benar kuliah di Amerika. Alif berhasil menjadi salah satu penerima beasiswa bergengsi, Fulbright, di George Washington University. Tapi, kepergian Alif ke Amerika meninggalkan sebuah kisah yang belum dimulai antara dirinya dan Dinara, gadis bermata indah yang juga teman sekantornya di Derap.

Kemudian hidup Alif menjadi begitu mulus. Tapi bukan berarti hal itu kemudian membuatnya menjadi puas dengan pencapaiannya. Apa yang dikejarnya? Apa sebenarnya yang dicarinya?

"Jangan gampang terbuai keamanan dan kemapanan. Hidup itu kadang perlu beradu, bergejolak, bergesekan. Dari kesulitan dan gesekanlah, sebuah pribadi akan terbentuk matang. Banyak profesi di luar sana, usahakanlah untuk memilih yang paling mendewasakan dan yang paling bermanfaat buat sesama. Lalu kalau kalian nanti sudah bekerja, jangan puas jadi pegawai selamanya, tapi punyailah pegawai."

***

T-A-M-A-T
Apa mau dikata, berakhir sudah kisah penuh semangat dan menginspirasi, trilogi Negeri 5 Menara :D
Novel yang terinspirasi dari kisah hidup penulisnya sendiri ini membuktikan bahwa anak pondok tidak selamanya hanya berkutat jadi kyai, ustadz, atau hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan. Ibadah itu bisa dengan pengejaran impian, menuntut ilmu setinggi mungkin, asal bermanfaat untuk diri sendiri maupun banyak orang.

Kalau jodoh bisa disebut mengejar impian, maka itu pula yang dikisahkan penulis dalam buku ini. Berbeda dengan dua novel sebelumnya (karena memang belum waktunya kali ya), kali ini penulis menyuguhkan kisah cinta Alif dengan perempuan yang akhirnya menjadi istri dan partner yang kompak dalam menjalani hidup. Bagi yang masih ingin sendiri, kayaknya cerita di novel ini bisa menjadi nasihat dan bahan pertimbangan untuk mengubah pikiran (ini kenapa jadi merasa tersindir sendiri ya :D)

'Takkan lari jodoh dikejar.' Gunung memang tidak akan lari. Tapi jodoh? Dia punya kaki dan keinginan, dia bisa berlari ke sana kemari, kemana dia suka. Bahkan dia bisa hilang, seperti lenyap ditelan Bumi. Atau dia jatuh ke tangan orang lain.


Bagian favorit dari novel ini adalah ketika toko buku tempat Dinara bekerja, Borders, mengijinkan semua karyawan memilih buku sisa display yang menggunung. Alif dan Dinara sampai membawa gerobak dorong untuk mengangkut semua buku yang mereka inginkan. Hwaaahh, yang ini bikin iri setengah matiiiiii... :D

Tadinya berharap kisah para sahibul menara lainnya sedikit banyak diceritakan, bukan cuma sekedar ketemu dalam sebuah reuni di London yang terasa singkat. Tapi kembali lagi, ini novel biografi begitu kan, ya?
Yang jadi pertanyaan saya...Alif dan Dinara jadi keliling Eropa selama 30 hari gak ya? Kok pesawatnya langsung terbang dari Washington ke Jakarta? Hmm...


Hihihi, ini adalah mantra penyemangat yang saya kutip dari buku kedua trilogi Negeri 5 Menara, yaitu Ranah 3 Warna. Ditulis di selembar kertas kecil yang dilipat kecil dan diselipkan di dompet :D
Inget banget nulisnya saat menyelesaikan skripsi yang tak kunjung selesai. Tulisan yang sedikit banyak memberikan kekuatan untuk bertahan di saat-saat tidak mengenakkan yang pernah singgah dalam hidup saya.
Semoga novel Rantau 1 Muara ini bukan sebuah "goodbye" dari karya menginspirasi A. Fuadi lainnya, tapi cukuplah sebuah "see you" :D

Happy Reading! :D

you can find the book on bukabuku.com

Monday, June 17, 2013

THe RaiLway ChilDren


Judul: The Railway Children (Anak-anak Kereta Api)
Penulis: Edith Nesbit
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Cetakan Juni 2010

"Kurasa setiap orang mau berkawan dengan kita jika kita bersikap bersahabat." hal.182


Tiga bersaudara - Roberta, Peter, dan Phyllis - tidak pernah menduga kehidupannya yang bahagia dengan ayah dan ibu yang penyayang, segala sesuatu yang tersedia untuk mereka, akan tiba-tiba berubah menjadi kehidupan yang tidak pernah terbayangkan.
Pada suatu malam, tiba-tiba Ayah mereka pergi tanpa mereka tahu kemana. Mendadak mereka sekeluarga (tanpa Ayah) harus pindah ke sebuah tempat terpencil yang jauh dari London. Bukan anak kecil namanya kalau mereka terus menerus bersedih dan memikirkan dengan serius kejadian apa yang terjadi pada keluarga mereka. Dalam waktu singkat ketiga bersaudara itu bisa beradaptasi dengan lingkungan di sekitar Pondok Tiga Cerobong (begitu orang-orang di sana menyebut rumah ketiga bersaudara itu). Mereka mulai akrab dengan stasiun kereta yang dekat dengan tempat tinggal mereka, tidak hanya akrab dengan tempatnya, mereka juga akrab dengan orang-orang yang bekerja di sana, seperti Kepala Stasiun, Pak Perks, Juru Uap, dan masinis.

Banyak hal menarik yang mereka alami, mengenal Pak Tua, penumpang kereta api yang selalu menyambut lambaian tangan mereka dari dalam kereta. Pak Tua yang ternyata adalah orang penting dan banyak memberikan kesan baik kepada mereka. Menyelamatkan bayi dari kebakaran,menghindarkan kereta api dari kecelakaan, memberikan kejutan ulang tahun untuk Pak Perks, bahkan menyelamatkan seorang anak yang sedang terluka.

***

"Segala sesuatu pasti ada akhirnya. Yang penting, kita terus maju." hal.257


Lagi-lagi saya jatuh cinta pada buku klasik. Dan, lagi-lagi saya jatuh cinta pada novel anak-anak :D
Novel anak-anak itu seperti buku motivasi, aliran positif dan rasa optimismenya mengalir deras.
Baca saja novel ini...dan kita akan diingatkan bahwa kepolosan anak-anak, semangat pantang menyerah, dan ketulusan untuk berbuat baik pada orang lain seringkali semakin menghilang dari diri kita.

Dari judulnya "The Railway Children", tadinya saya mengira ini adalah kisah tentang ketiga anak miskin yang tinggal di sekitar rel kereta api, menjadi anak-anak miskin dengan pakaian lusuh dan berjuang untuk kehidupan sehari-hari. Tadinya...tapi dari cover novelnya aja kelihatan kalau anak-anak ini berasal dari keluarga berpendidikan dengan pakaian yang layak.

NGomong-ngomong soal kereta api. Kendaraan satu ini bukan hal baru buat saya. Hampir tiap hari malah bolak-balik pagi dan sore hari naik kendaraan yang bunyinya tut tut tut itu. Selama baca novel ini, saya juga merasa membaca on the spot di tempat kejadian perkara. Maklum novel ini adalah pengusir bosan selama menunggu kereta api maupun selama menikmati perjalanan dari berangkat sampai ke tempat tujuan.

"Tidakkah lebih baik kalau kita bayangkan diri kita sebagai tokoh-tokoh cerita yang ditulis oleh Tuhan? Kalau Ibu yang menulis cerita, mungkin Ibu akan membuat kesalahan. Tapi kalau Tuhan yang jadi Sang Pengarang, Tuhan tahu bagaimana mengakhiri sebuah cerita dengan sebaik-baiknya - yang terbaik bagi kita semua." hal. 284


Hampir semua karakter di novel ini tidak bisa tidak untuk kita sukai.Tidak terkecuali ketiga bersaudara. Roberta atau penulis lebih suka memanggilnya Bobbie, si sulung, adalah anak perempuan yang baik budi, penyayang, dan pandai memposisikan diri sebagai kakak. Terlebih bagaimana dia tidak ingin menyakiti hati ibunya dengan mengingat ayah yang "pergi" dan berusaha bergembira dengan kedua adiknya. Peter, satu-satunya anak laki-laki, yang sering berusaha bersikap sok berani demi harga dirinya di hadapan kedua saudara perempuannya. Meskipun sebenarnya Peter memang anak yang pemberani meskipun sedikit keras kepala dan suka mengganggu saudaranya. Sejak tidak ada ayahnya dia juga berusaha bersikap sebagai kepala keluarga :D
Si bungsu Phyllis, yang menggemaskan meskipun sering ceroboh, seperti tali sepatunya lepas, tersandung, memecahkan gelas, yang semuanya itu dianggapnya sebuah ketidaksengajaan.
Ibu, adalah sosok yang membentuk ketiga karakter anak-anaknya (meskipun mungkin Ayahnya juga begitu). Dari ibu, anak-anak itu mewarisi karakter yang kuat, suka menolong, penyayang, dan berbagai sifat baik lainnya.

Saya menyukai gaya bercerita Edith Nesbit yang seringkali melontarkan pendapat pribadinya yang menggelitik di antara ceritanya, seperti ketika dia akhirnya menyebut Roberta hanya dengan Bobbie saja. PEmbentukan karakter ketiga bersaudara itu yang terkesan alami dengan kepolosan dan tingkah mereka yang terkadang nakal. Bukan karakter baik yang tanpa cela seperti malaikat yang tidak sengaja jatuh ke bumi :D

Meskipun menurut saya novel ini kurang dalam bercerita tentang petualangan ketiga bersaudara dengan kereta api, novel ini tetap bacaan yang tepat untuk keluarga. Dongeng yang bagus untuk diceritakan oleh ayah dan ibu kepada anak-anaknya :)

My favorite line:
(diucapkan Peter kepada Phyllis yang tali sepatunya selalu lepas :D)
"Kalau kau menikah kelak, tali sepatumu pasti lepas waktu kau berjalan ke depan altar, dan calon suamimu akan tersandung tali sepatumu, jatuh tersungkur dan hidungnya patah terbentur lantai yang keras. Lalu kau tidak sudi menikah dengan lelaki berhidung patah, dan kau akan jadi perawan tua."

Happy Reading! :D