Monday, April 11, 2011

A Thousand Splendid Suns



Judul: A Thousand Splendid Suns
Penulis: Khaled Hosseini
Penerbit: Qanita
Diterbitkan tahun 2008

Ini adalah pertama kalinya saya membaca novel dengan latar belakang konflik atau perang yang terjadi pada suatu negara. Bagaimana rakyat tidak tahu-menahu menjadi korban dari kepentingan pihak-pihak tertentu yang berseteru.
Novel ini memiliki dua tokoh utama, yaitu Mariam dan Laila. Awalnya saya tidak menduga kalau akan muncul Laila sebagai tokoh kedua, karena review di belakang buku hanya menyebut seorang Mariam. Novel ini bersetting Afghanistan yang mengalami konflik berkepanjangan dari tahun 60an sampai 2003. Yup, panjang sekali!!!

Novel ini dibagi dalam empat bagian. Bagian pertama tentang Mariam. Bagian kedua tentang Laila. Bagian ketiga tentang kedua tokoh utama yang dipertemukan. Dan, bagian keempat yang menceritakan akhir dari kisah kedua tokoh.

Di bagian pertama diceritakan kehidupan Mariam sebagai seorang harami (anak haram) antara ibunya (Nana) yang seorang pembantu dengan majikan (Jalil). Mariam dan ibunya hidup terpisah dari Jalil. Satu-satunya kebahagiaan Mariam adalah ketika ayahnya datang berkunjung seminggu sekali. Meskipun Nana mengatakan kalau ayahnya hanya berpura-pura. Kehidupan Mariam menjadi terpuruk ketika dia nekat menemui ayahnya. Sepulang dari rumah ayahnya Mariam menemukan ibunya tewas gantung diri. Semenjak itu kehidupan Mariam berubah, tinggal bersama keluarga ayahnya yang membencinya, menjalani pernikahan yang dipaksakan, dan mengalami KDRT.
Di bagian kedua, tokoh Laila digambarkan jauh lebih beruntung dari Mariam. Hidup dengan keluarga lengkap dan orang-orang yang menyayanginya. Meskipun pada akhirnya kehidupan bahagia Laila lenyap karena perang mengambil satu per satu orang-orang dekatnya.
Di bagian ketiga, kedua tokoh dipertemukan. Bagaimana satu demi satu masalah akibat perang dan juga kehidupan membuat mereka saling bahu-membahu mengatasinya.
Akhir dari kisah ini sebenarnya membahagiakan, seperti diungkapkan 'seribu mentari surga muncul di hadapannya'. Tapi defini kebahagiaan yang dialami kedua tokoh benar-benar berbeda.

Kesan yang muncul setelah saya menutup halaman terakhir buku ini adalah campur aduk. Kagum dengan cara penulis menuturkan adegan demi adegan. Pembaca dibuat seakan ikut merasakan nasib yang dialami kedua tokoh, merasakan bagaimana perang telah membuat rasa aman dan nyaman sulit ditemukan. Gak pernah terbayang kalau roket bisa kapan saja meluncur dan meluluhlantakkan rumah kita :(

Bagian paling berkesan adalah surat yang ditulis oleh Jalil, ayah Mariam, sebelum meninggal. Surat yang tidak pernah sempat dibaca oleh Mariam. Bagian itu berhasil membuat saya menitikkan air mata :)

Karena novel ini sudah international bestseller, pastilah highly recommended. Novel berkualitas dengan emosi mendalam dan kisah yang menyentuh.

Happy reading! :)

2 comments:

Puspita said...

Terima kasih ceritanya. Saya sangat menikmati cerita Anda. Jadi lupa usia hampir setengah abad.

Uphiet said...

Hehehe :)

Post a Comment