Tuesday, March 15, 2011

9 Summers 10 Autums


Judul: 9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke The Big Apple
Penulis: Iwan Setyawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Diterbitkan 22 Februari 2011

Ada tiga hal yang membuat saya akhirnya memilih buku ini. Pertama, pencantuman “Kota Apel” di judul buku. Sebagai orang yang pernah tinggal beberapa tahun di Malang, saya langsung penasaran. “Wah, apaan ni?” Meskipun yang dimaksud ternyata Kota Batu. Ya, masih sodaraan bangetlah sama Malang :D
Kedua, cover bukunya yang putih polos dengan dua buah apel merah mengkilat yang menyimbolkan Kota Batu (dengan Gunung Panderman) dan NYC (dengan patung Liberty). Seakan memberi kesan ‘bukan novel biasa’ :)
Ketiga, mantra sakti di bagian belakang buku. Kisah anak sopir angkot dari Kota Batu yang menjadi direktur di New York City. Hmm, langsung terbayang novel-novel Andrea Hirata dan A. Fuadi. Would it be the same?

Ternyata, novel ini tidak seperti yang saya perkirakan. Menurut saya malah lebih ke kisah kehidupan penulis dari masa kecil hingga menjadi direktur di NYC. Alur yang diceritakan maju mundur. Dalam setiap babnya, penulis bercerita tentang bagian-bagian penting yang mempengaruhi hidupnya. Rumah kecil di Batu, ayah, ibu, keempat saudara perempuannya, masa sekolah dan kuliah, sampai kerja dan pindah ke New York.

Penulis banyak bercerita tentang kesederhanaan keluarganya dalam menjalani hidup di rumah kecilnya. Cinta tanpa syarat seorang ibu, pengorbanan ayah, dan kebersamaan bersama keempat saudara perempuannya. Dan yang terpenting, dengan berbagai keterbatasan materi yang dimiliki pendidikan tetaplah hal yang utama.

Di buku ini, seakan kita diajak menyusuri tiap tempat di NYC yang ditulis secara detil oleh penulis. Banyak juga ditemukan tentang puisi, yoga, opera, dan juga tulisan Dostoevsky yang menjadi kesukaan penulis.

Tapi...selama saya membaca buku ini, kurang ada greget. Tidak ada emosi yang terbawa seperti kita membaca novel-novel memotivasi semacam Laskar Pelangi ataupun Negeri 5 Menara. Halangan ataupun rintangan yang dihadapi penulis sampai menjadi sekarang digambarkan dengan terlalu manis.

Dalam novel ini digambarkan penulis bercerita pada sesosok anak kecil berseragam merah putih tentang masa lalunya. Menurut dugaan saya, sosok anak kecil ini adalah penggambaran sosok penulis sendiri di masa lalu.

Novel ini menggambarkan bahwa berasal dari keluarga atau lingkungan seperti apapun, setiap manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan.

Happy Reading! :)

you can find the book on bukabuku.com

1 comments:

Anonymous said...

sprtix q prnh dger crta ini...
Oh y, q ingat...
Nich penulis pernh d undang jd narasumber d Kick Andy, klo g slh 1bln yg lalu...

Post a Comment